Ketika kamu terlahir dengan
keadaan sedikit tidak normal, atau dengan sedikit kelainan yang terkadang
terlihat jelas dan jadi sedikit masalah, pada awalnya, mungkin kamu akan
mengeluh karena kamu belum bisa memaksimalkan kemampuanmu karena
keterbatasanmu. Tapi, ketika kau tau bagaimana memaksimalkan keterbatasnmu itu,
bahkan, jika kamu bisa mengalahkan seseorang yang kau anggap lebih daripada
kamu, kamu akan jadi orang yang bersyukur walaupun kamu tidak jadi yang terbaik.
Aku
mengalaminya sendiri. Aku memiliki kelainan pada kakiku. Aku mengidap rakitis
sehingga kakiku berbentuk huruf X. Aku belum mengerti awalnya. Aku sebelumnya
selama SD dan SMP hanya merasa setiap kali aku berjalan dan berlari, kakiku
memang aneh. Aku tak pernah bisa berlari cepat karena setiap kali aku berlari
banyak orang yang mengataiku. Aku hanya anak yang masih polos yang kurang
percaya diri saat itu. Aku selalu gagal dalam hal olahraga karena aku memang
merasa berbeda. Tapi, pelan-pelan, aku mulai tau kalau aku terkena rakitis dan
kakiku berbentuk X.
Aku tau
tidak sedikit orang yang sepertiku. Punya kaki X ataupun O. Rata-rata semuanya
memiliki masalah yang sama denganku, tapi, tak sedikit atau mungkin lebih
banyak orang yang tak menghiraukan kelainan pada kakinya itu. Tapi, ini jadi
masalah buatku. Aku tak pernah percaya diri dengan kekuranganku ini. Aku ingin
berubah.
Ketika
pertama kali aku masuk SMA, aku pengen masuk basket. Aku coba masuk kedunia
yang tidak pernah kumasuki sebelumnya. Dunia olahraga. Aku bergabung dengan
basket. Sulit memang awalnya. Berlari sambil membawa bola. Jujur, aku masih
merasa tak nyaman dengan kakiku, dan tentunya teman-temanku menyadari kalau
kakiku punya kelainan. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan ini dan tetap konsisten
latihan.
Kejuaraan
pertama, memang gagal total. Semua orang yang baru masuk basket dan belum tau
apa-apa. Tapi aku dan semuanya tetap semangat. Bahkan aku bergabung latihan
diluar walaupun hanya sebentar karena membentur orang tua. Orang tuaku tidak
setuju aku benar-benar menjadi pemain basket dan kurang memperhatikan sekolah.
Aku keluar, dan mulai persipan untuk kejuaraan kedua. Tim kami gagal masuk
final dan kalah dalam perebutan juara 3. Tak apa, batinku saat itu. Keadaan tim
sangat sulit. Tak ada dukungan penuh, semuanya setengah-setengah. Baik dari
pemain maupun dari sekolah.
Aku
pernah dengar perkataan seseorang tentang kakiku dan caraku berlari. Itu
masalah besarku. Aku minder lagi karenanya, tapi orang yang lain membesarkan
hatiku dan aku melihat keberhasilan orang itu. Orang itu berkaki O dan hebatnya
dia tak ada masalah dengan keadaan kakinya. Aku juga harus begitu. Aku
seharusnya tak ada masalah dengan kakiku. Oh ya, sempat juga kedua pergelangan
kakiku cedera. Sakit sekali rasanya.
Selain
aku bergabung dengan tim Basket, setiap kali ada pertandingan, aku juga ikut
dalam tim volly. Entah dapat kekuatan darimana, aku yang dulu tak pernah bisa
bermain volly jadi sedikit bisa walau Cuma dasaran saja. Itu juga yang buat aku
bahagia bahkan, teman-temanku yang “katanya” sudah lama ikut volly, masih belum
bisa bermain sepertiku. Sedikit sombong mungkin kata-kataku diatas. Maaf,
kata-kata itu hanya aku peruntukkan untuk orang yang pernah mengaku sudah
menggeluti volly sejak lama tapi masih sama saja kemampuannya. YA ! Aku
membencinya. Sudahlah, ini bukan waktunya membahas perempuan itu. Yang jelas,
aku harus lebih baik dari perempuan itu.
Saat
ini, aku suka berlari. Setiap kali teman-temanku melakukan persiapan untuk
atletik lari, aku ikut latihan. Pada ajang PORKAB lalu, aku tak bisa ikut
karena aku bukan kelahiran daerah setempat. Tapi, aku tetap suka berlari.
Pernah ketika itu pelajaran olahraga tes lari 2400 m, aku dapat waktu tercepat
dari teman-teman perempuan sekelasku dan dapat urutan tengah ketika berlari
bersama teman-teman laki-laki. Kemudian, saat tes lari 3000 m, aku dapat urutan
ke-2 dari 2 kelas yang berlari bersama. Sesama perempuan tentunya. Aku sendiri
terkadang bingung, dari mana aku bisa melakukan semua itu sekarang. Kakiku dari
dulu kelainan dan aku bisa menang dari orang-orang yang berkaki normal.
Kejuaraan
basket HARDIKNAS baru saja terlewati. Di semifinal, kita langsung bertemu juara
tahun lalu. Nyaris kita bisa juara 1, tapi belum beruntung. Kita hanya juara 3.
Sedikit perasaan lega karena kita adalah satu-satunya Tim sekolah yang bisa
juara. Dulu sepk bola kalah, volly memang sudah sulit menang dan kalah di
perebutan juara 3. Tim basket putra juga mengalami nasib sama seperti tim volly
putra yang kalah di perebutan juara ke 3. Tapi ini tim basket putri, kita bisa
juara 3. Kita hanya kalah dengan sang juara tanpa sempat mencoba melawan juara
2. Tak apa lah....mungkin masih belum jadi kesempatan.
Ada 2
orang dari tim juara yang mainnya paling baik kurasa. Mereka selalu bisa
berlari lebih cepat dariku. Dan aku selalu tau itu. Tapi, ketika aku ikut dalam
tim atletik sekolahku, aku mengambil nomor
lari 100 m. Aku hanya merasa yakin aku akan berhasil. Aku jarang latihan
, Cuma tetap menjaga fisikku dengan bermain basket.
Hari H
tiba. Sempat kudengar omongan yang kurang enak tentang kakiku lagi. Aku juga
dengar masukan seseorang kalau orang yang berkaki sepertiku memang sulit untuk
bisa berlari cepat. Aku tak peduli. Aku tetap ikut lari.
Start
pertama,aku bisa nomor 2, tapi dibatalkan karena panitia belum siap, aku
berlari lagi. Sebenarnya, aku ketinggalan start lumayan jauh, dan aku hanya
berlari secepat yang kubisa. Aku tau, guruku sendiri sebenarnya sudah tak yakin
aku bisa masuk final. Tapi Tuhan memberikanku keberuntungan. Di lari putaran ke
2, aku jadi yang tercepat dan masuk final. Ketika di final, aku kembali
ketinggalan star, dan hanya bisa jadi yang ke-4 mungkin. Tapi, aku sudah sangat
bersyukur karena itu.
Ada
yang membuatku bahagia walaupun aku tak jadi yang terbaik. Aku tidak punya kaki normal, tapi aku bisa
lebih baik dari orang yang sebelumnya lebih baik dariku. Kakiku tidak normal,
tapi aku pernah ikut lomba lari dan masuk final. Aku tidak punya kaki normal.
Tapi, setidaknya aku berani melawan ketidaknormalanku daripada orang normal
yang tidak mau susah payah dengan kakinya. Aku tidak punya kaki normal, tapi
aku bisa berlari dengan baik dengan kakiku. Sekarang, aku bersyukur pada Tuhan,
aku tau, ketidaknormalan kakiku tak selamanya jadi masalah buatku, dan sekarang
sudah tidak saatnya aku minder karena kakiku. Diluar sama, ada yang keadaannya
lebih buruk dariku. Untuk itu, aku harus bisa percaya diri. Aku harus lebih
bersyukur lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar