TTL

Minggu, Mei 27, 2012

Aku Bisa Berlari Seperti Orang Normal


Ketika kamu terlahir dengan keadaan sedikit tidak normal, atau dengan sedikit kelainan yang terkadang terlihat jelas dan jadi sedikit masalah, pada awalnya, mungkin kamu akan mengeluh karena kamu belum bisa memaksimalkan kemampuanmu karena keterbatasanmu. Tapi, ketika kau tau bagaimana memaksimalkan keterbatasnmu itu, bahkan, jika kamu bisa mengalahkan seseorang yang kau anggap lebih daripada kamu, kamu akan jadi orang yang bersyukur walaupun kamu tidak jadi yang terbaik.


                Aku mengalaminya sendiri. Aku memiliki kelainan pada kakiku. Aku mengidap rakitis sehingga kakiku berbentuk huruf X. Aku belum mengerti awalnya. Aku sebelumnya selama SD dan SMP hanya merasa setiap kali aku berjalan dan berlari, kakiku memang aneh. Aku tak pernah bisa berlari cepat karena setiap kali aku berlari banyak orang yang mengataiku. Aku hanya anak yang masih polos yang kurang percaya diri saat itu. Aku selalu gagal dalam hal olahraga karena aku memang merasa berbeda. Tapi, pelan-pelan, aku mulai tau kalau aku terkena rakitis dan kakiku berbentuk X.
                Aku tau tidak sedikit orang yang sepertiku. Punya kaki X ataupun O. Rata-rata semuanya memiliki masalah yang sama denganku, tapi, tak sedikit atau mungkin lebih banyak orang yang tak menghiraukan kelainan pada kakinya itu. Tapi, ini jadi masalah buatku. Aku tak pernah percaya diri dengan kekuranganku ini. Aku ingin berubah.
                Ketika pertama kali aku masuk SMA, aku pengen masuk basket. Aku coba masuk kedunia yang tidak pernah kumasuki sebelumnya. Dunia olahraga. Aku bergabung dengan basket. Sulit memang awalnya. Berlari sambil membawa bola. Jujur, aku masih merasa tak nyaman dengan kakiku, dan tentunya teman-temanku menyadari kalau kakiku punya kelainan. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan ini dan tetap konsisten latihan.
                Kejuaraan pertama, memang gagal total. Semua orang yang baru masuk basket dan belum tau apa-apa. Tapi aku dan semuanya tetap semangat. Bahkan aku bergabung latihan diluar walaupun hanya sebentar karena membentur orang tua. Orang tuaku tidak setuju aku benar-benar menjadi pemain basket dan kurang memperhatikan sekolah. Aku keluar, dan mulai persipan untuk kejuaraan kedua. Tim kami gagal masuk final dan kalah dalam perebutan juara 3. Tak apa, batinku saat itu. Keadaan tim sangat sulit. Tak ada dukungan penuh, semuanya setengah-setengah. Baik dari pemain maupun dari sekolah.
                Aku pernah dengar perkataan seseorang tentang kakiku dan caraku berlari. Itu masalah besarku. Aku minder lagi karenanya, tapi orang yang lain membesarkan hatiku dan aku melihat keberhasilan orang itu. Orang itu berkaki O dan hebatnya dia tak ada masalah dengan keadaan kakinya. Aku juga harus begitu. Aku seharusnya tak ada masalah dengan kakiku. Oh ya, sempat juga kedua pergelangan kakiku cedera. Sakit sekali rasanya.
                Selain aku bergabung dengan tim Basket, setiap kali ada pertandingan, aku juga ikut dalam tim volly. Entah dapat kekuatan darimana, aku yang dulu tak pernah bisa bermain volly jadi sedikit bisa walau Cuma dasaran saja. Itu juga yang buat aku bahagia bahkan, teman-temanku yang “katanya” sudah lama ikut volly, masih belum bisa bermain sepertiku. Sedikit sombong mungkin kata-kataku diatas. Maaf, kata-kata itu hanya aku peruntukkan untuk orang yang pernah mengaku sudah menggeluti volly sejak lama tapi masih sama saja kemampuannya. YA ! Aku membencinya. Sudahlah, ini bukan waktunya membahas perempuan itu. Yang jelas, aku harus lebih baik dari perempuan itu.
                Saat ini, aku suka berlari. Setiap kali teman-temanku melakukan persiapan untuk atletik lari, aku ikut latihan. Pada ajang PORKAB lalu, aku tak bisa ikut karena aku bukan kelahiran daerah setempat. Tapi, aku tetap suka berlari. Pernah ketika itu pelajaran olahraga tes lari 2400 m, aku dapat waktu tercepat dari teman-teman perempuan sekelasku dan dapat urutan tengah ketika berlari bersama teman-teman laki-laki. Kemudian, saat tes lari 3000 m, aku dapat urutan ke-2 dari 2 kelas yang berlari bersama. Sesama perempuan tentunya. Aku sendiri terkadang bingung, dari mana aku bisa melakukan semua itu sekarang. Kakiku dari dulu kelainan dan aku bisa menang dari orang-orang yang berkaki normal.
                Kejuaraan basket HARDIKNAS baru saja terlewati. Di semifinal, kita langsung bertemu juara tahun lalu. Nyaris kita bisa juara 1, tapi belum beruntung. Kita hanya juara 3. Sedikit perasaan lega karena kita adalah satu-satunya Tim sekolah yang bisa juara. Dulu sepk bola kalah, volly memang sudah sulit menang dan kalah di perebutan juara 3. Tim basket putra juga mengalami nasib sama seperti tim volly putra yang kalah di perebutan juara ke 3. Tapi ini tim basket putri, kita bisa juara 3. Kita hanya kalah dengan sang juara tanpa sempat mencoba melawan juara 2. Tak apa lah....mungkin masih belum jadi kesempatan.
                Ada 2 orang dari tim juara yang mainnya paling baik kurasa. Mereka selalu bisa berlari lebih cepat dariku. Dan aku selalu tau itu. Tapi, ketika aku ikut dalam tim atletik sekolahku, aku mengambil nomor  lari 100 m. Aku hanya merasa yakin aku akan berhasil. Aku jarang latihan , Cuma tetap menjaga fisikku dengan bermain basket.
                Hari H tiba. Sempat kudengar omongan yang kurang enak tentang kakiku lagi. Aku juga dengar masukan seseorang kalau orang yang berkaki sepertiku memang sulit untuk bisa berlari cepat. Aku tak peduli. Aku tetap ikut lari.
                Start pertama,aku bisa nomor 2, tapi dibatalkan karena panitia belum siap, aku berlari lagi. Sebenarnya, aku ketinggalan start lumayan jauh, dan aku hanya berlari secepat yang kubisa. Aku tau, guruku sendiri sebenarnya sudah tak yakin aku bisa masuk final. Tapi Tuhan memberikanku keberuntungan. Di lari putaran ke 2, aku jadi yang tercepat dan masuk final. Ketika di final, aku kembali ketinggalan star, dan hanya bisa jadi yang ke-4 mungkin. Tapi, aku sudah sangat bersyukur karena itu.
                Ada yang membuatku bahagia walaupun aku tak jadi yang terbaik.  Aku tidak punya kaki normal, tapi aku bisa lebih baik dari orang yang sebelumnya lebih baik dariku. Kakiku tidak normal, tapi aku pernah ikut lomba lari dan masuk final. Aku tidak punya kaki normal. Tapi, setidaknya aku berani melawan ketidaknormalanku daripada orang normal yang tidak mau susah payah dengan kakinya. Aku tidak punya kaki normal, tapi aku bisa berlari dengan baik dengan kakiku. Sekarang, aku bersyukur pada Tuhan, aku tau, ketidaknormalan kakiku tak selamanya jadi masalah buatku, dan sekarang sudah tidak saatnya aku minder karena kakiku. Diluar sama, ada yang keadaannya lebih buruk dariku. Untuk itu, aku harus bisa percaya diri. Aku harus lebih bersyukur lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar