TTL

Minggu, Januari 26, 2014

Saat Kita Jadi Beda


11 Juni 2013 
Setiap kita bertemu dengan orang yang baru, ada banyak hal yang mungkin bisa kita rasakan. Entah itu rasa nyaman, suka, benci, jijik, atau bahkan bermacam-macam rasa takut yang tidak bisa didefinisikan. Aku pun begitu. Ketika aku dipertemukan dengan 1 orang, dia, ada banyak rasa yang kurasakan. Sesal akan kehadirannya, nyaman karenanya, dan sangat takut kehilanggannya. Ya meskipun sudah terlalu banyak luka yang dibuat olehnya. Tapi, rasa takut kehilangan yang ada jauh lebih besar.
Ketika aku dan dia sudah tidak bisa lagi menjadi kita, yang tersisa cuma aku dan dia yang keduanya saling berdiri sendiri di ujung jalan masing-masing. Aku telah menemukan jalanku, dan diapun begitu. Dan jika ternyata jalanku dan jalannya adalah sebuah persimpangan, yang tidak bisa dilalui bersama alias tidak mau mengorbankan jalur masing-masing, aku akan memilih berjalan sendiri di jalan pilihanku. Aku yakin, dia akan melakukan hal yang sama.
Saat “kita” yang semakin lama semakin rapuh entah karena apa yang sedikit tak jelas itu, sedikit kecewaku kembali hadir. Saat kamu yang ternyata masih bermanis orang lain dan kembali dengan sikap apatis yang hanya mampu membuatku menangis. Ingat, “Cuma menangis” saja. Tidak sampai membuat hatiku mampu beranjak lagi.
Aku tetap sama seperti 3 tahun lalu. Ketika senyumku yang muncul saat kata indahmu mulai masuk ke darahku. Aku masih sama seperti 3 tahun lalu, ketika aku yang benar bahagia dengan pesan singkat di akun jejaring sosial milikmu. Aku tetap sama seperti 3 tahun lalu, yang tetap punya rasa yang sama terhadapmu. Aku tak pernah berubah hingga sekarang. Aku tetap “sayang kamu”. Aku tetap sama bodohnya seperti kemarin. Yang mau-maunya menunggu kamu yang bahkan tak kenal dirimu. Aku masih dengan bodohnya masih tetap tak bisa beranjak dan tetap menunggu kamu yang sudah lama mengabaikanku.
Karena setia dan bodoh itu setipis kertas. Entah aku ini setia atau mungkin aku bodoh. Tapi aku tetap belum bisa beranjak. Mungkin hanya masalah waktu, sampai kemudian jenuhmu yang akan menuju kearahku. Sehingga, akupun juga merasa jenuh seperti dirimu..(end)


Tetap untuk senjaku, ..
Aku sayang kamu.....

Bersama Sebentuk Kristal Hati yang Telah Kau Bawa Pergi


Jika indah senja hanya tinggal sebuah cerita,...
Ijinkan aku menyampaikannya,...
Sajak luka yang mungkin akan selalu kubawa...
Karena kulihat senja pergi tanpa peduli adanya....
Karna aku masih merasakan nafasnya...
Masih mendengar detak jantungnya...
Masih menikmati alunan melodi suaranya....
Dan masih kulihat pelangi disudut matanya yang tak sirna....
Senja...
Kelak jika memang kita terbang kearah berlawanan...
Akan kucoba kuatkan,...
Nafasku yang telah kau bawa pulang....
Senja...
Aku ingin kau dan aku jadi bintang...
Bintang yang bersinar menjadi mercusuar dalam pekat....
Senja...
Kalaupun engkau tak akan pernah datang, janjimu itu senja yang akan kujadikan pegangan....
---
Terlalu sulit....
Itu memang adanya. Aku benar benar sulit melupakannya. Entak kenapa, aku sendiri juga sedikit bingung. Pertemuanku dengannya tak semanis kisah-kisah cinta yang ada dalam buku maupun dalam cerita remaja televisi. Perkenalan yang sederhana. Berawal dari teman asrama yang memperkenalkanku padanya, hinga berujung curhatan-curhatan tentang cinta milikku dan miliknya sendiri. Aku bahagia, mendengar cerita indahnya. Tapi aku juga merasa ikut terluka ketika dia menguraikan kisah yang tak membuatnya tertawa. Ketika pada akhirnya cerita-ceritaku dan juga untaian ceritanya berujung pada kata-kata indah pada bulan yang penuh rahmat dari Tuhan, ada 1 untaian doa yang aku panjatkan,”Tuhan, jangan jauhkan dia dariku. Aku ingin dia yang menjadi takdirku untuk membimbingku dijalanmu.” Itu doaku dahulu.
Karna sang waktu juga yang membawa cinta, serta sang waktu juga yang membuatku merasakan indah hari-hari ketika bersamanya. Seperti kata-kata kuno, seolah dunia milik berdua. Yang lain cuma ngontrak. Benar-benar manis. Pada akhirnya waktu membuatku jauh darinya. Karna hanya salah kata yang terlalu sering kuucap. Karna posesifku yang malah membuatku tak mendapatkan apa-apa. Sungguh, aku hanya terlalu takut kehilangannya. Tapi itu nyata jawabanya, tepat 11 hari sebelum sempat kunikmati hari kelahiranku bersamanya. Dia pergi. Bukan salahnya memang. Tapi salahku yang tak bisa menjaganya dengan hati-hati. Yang hanya bisa terlalu protektif seperti anak kecil yang membawa kemanapun bonekanya. Sudah kukatakan. Aku hanya terlalu takut kehilangannya.
Depresiku kunikmati adanya. Hingga semuanya berantakan. Benar-benar berantakan. Aku, hatiku, otakku, bahkan sekolahku juga berantakan. Hingga saat kutemukan sedikit saja kedamaian bersama benda bulat sederhana, dan juga seorang kawan yang mengajariku jadi perempuat tegar yang seharusnya mengubur kenangan tentang kedamaian yang telah terbang dan coba mencari kedamaian yang lain. Sedetik itu, ketika aku bersama benda bulat itu, aku bisa mengalihkan otakku darinya. Dan sedetik itu juga, aku mampu mengalahkan kebutuhanku untuk memandang cahayanya.
Tapi, ketika kenyataan yang ada sungguh menyesatkan, aku kembali merasakan ruang pucat yang membuatku benar-benar merasa hilang arah. Ketika kutahu, takkan ada hati lagi untuk dibagi dengan orang sepertiku. Bahkan hati sebagai seoranng teman. Juluran tangan sebagai ucapan selamat harus terpuaskan dengan diam tanpa ada cacian. Itu mungkin cukup pantas. Sementara itu, didalamnya, kristal satu-satunya yang paling berharga perlahan-lahan menghitam. Aku bisa apa ? Aku tak bisa apa-apa. Itu cinta miliknya sekarang. Kupaksa diriku sendiri terlalu peduli dengan apapun tentangnya. Kembali kutenggelamkan diriku dalam dunia baru yang mampu membuatku sedikit merasa dunia itu indah walaupun tanpa dia adanya. Hanya mampu kusampaikan pada bangau kertas apa yang kurasakan ketika dia tak bersamaku saat itu.

Tahun ajaran berikutnya....
Ketika bulan yang terkadang jadi bulan ujian sekaligus bulan penuh nikmat-Nya kembali datang, dia dengan menawarkan sedikit kedamaian membuatku kembali tenggelam kedalam warna biru kembali. Bodoh memang, karena aku mau saja masuk kedalam warna biru itu kembali.
Tak ada yang salah dengan perdamaian. Itu yang menenangkan. Itu yang membuat aku belajar ketika aku sebelumnya tak bisa menemukan kedamaian. Bangau kertas tentang otakku yang sebenarnya sedikit tak waras karena kehilangannya kuberikan padanya. Tepat dihari ketika sang juru damai dunia lahir pada tanggal yang sama. Kulukiskan kembali masa yang pernah dibuatnya jadi benar-benar indah itu. Denga kata-kata harapan didalamnya, dan mungkin sedikit permintaan yang berujung senyum tulus yang tersajikan kembali untuk bintang kecil yang nyaris mati ini. Maka, kuibaratkan dia seperti langit malam. Yang tak hanya milik 1 bintang kecil ini saja, tapi juga punya bintang lain yang membuatnya begitu menakjubkan. Sungguh terlalu berlebihan aku meempatkannya ditempat terindah yang ada pada kristal yang kembali memerah.
            Banyak hal lagi yang kulukiskan bersamanya, Membuatku jauh-jauh lebih dalam jatuh dan rasa sakitnya sungguh indah. Seperti morfin yang membius, ketika tak ada lagi yang disuntikkan hanya sakau yang ditinggalkan. Mungkin seperti itu gambaranya. Jatuh, cemburu, sekolah bahkan masalah tersulit, aku sudah pernah melewatinya. Bukan membuatku gentar lantaran benteng itu tak mampu dihancurkan, tapi itu membuatku semakin kuat menggenggam mimpiku untuk tetap percaya bahwa aku untukknya. 1 kalimat yang dia ucapkan, “ Masalah itu anugerah dari Tuhan kepada hambaNya, bukan untuk membuat hambaNya lemah dan putus asa, tetapi membuat hambaNya belajar dan ingat kepada Tuhan.” Aku kembali tau. Ini berlebihan untuk remaja seusiaku. Tapi, ini nyata yang kurasakan.
            Mungkin dia lelah, sampai seolah-olah di terlihat menyerah. Mungkin terlalu keras aku mengajaknnya menentang arus yang kini kian deras. Semua kembali tak berpihak. Hingga rasanya tak sanggup kutangguhkan jika aku harus membiarkannya terjerat pelan-pelan. “Aku membebaskanmu, raih mimpimu, kejar cita-citamu,”Itu yang terucap dari bibirku. Dalam isakku, kusimpan janjimu dulu.

---
Untuk senjaku yang mungkin telah benar-benar pergi. Saat lantunan jujurku ingin kukatakan, aku tak bisa. Aku sudah bilang, aku iri kepadamu, iri dengan perasaanmu yang bisa dengan mudahnya datang dan pergi serta berganti. Sementara aku tetap diam disini, dan tak mampu kupaksa untuk ikut pergi tanpa peduli. Jujur ku samapaikan, aku merindukamu. Maaf....bintang kecil ini masih mengharapmu....




Bersama sebentuk kristal hati yang telah kau bawa pergi

ZaFa_98

Cerita Harus Selesai

Usiaku 19 tahun. Ya.. itu saja, usiaku 19 tahun dan aku belom berarti apa-apa. Mungkin di usia ini aku terlihat lebih sedikit dewasa. Percayalah, aku bukan lagi remaja usia 15 atau 17 tahun yang sedang bahagia karena telah menganggap dirinya dewasa. Aku 19 tahun, dan aku masih menyimpan cerita cengeng ketika usiaku belum genap 19 tahun. Cerita tentang seorang yang sederhana. Cerita yang menurutku sangat istimewa sehingga tak bosan jika berulang-ulang kuceritakan. Dengan bahasa yang sedikit berlebihan karena yang kurasakan dulu memang berlebihan untuk remaja yang baru berusia 16 tahun.
Nama yang sederhana, perkenalan yang sederhana, cerita yang dimulai dengan sederhana, namun rasa yang kuyakini benar-benar tidak sederhana. Begitu pula jalan cerita yang kemudian tertulis sedikit demi sedikit. Hingga terjalin setumpuk kenangan yang dulu sempat kubilang sangat menyesakkan untuk diingat. Terlalu berlebihan jika kupikir saat ini, aku benar-benar tak bisa berpaling darinya dulu. Kemudian aku dan dia tidak bersama seperti cerita yang kuinginkan. Aku terpukul, sangat terpukul awalnya. Aku yang masih benar-benar berharap harus memutuskan untuk merelakannya. Bukan demi rasa yang dimilikinya untuk orang yang lain. Aku tahu pasti, saat itu rasanya hanya untukku tapi cerita yang ada sudah terlalu kusut untuk dilanjutkan. Hanya berjalan ditempat tanpa ada langkah semacam langkah baru yang tak membuat rasa itu jenuh. Baru-baru ini aku tersadar, memang wajar saja jika rasa jenuh itu ada pada dirinya, ketika aku yang tak sempurna ini tak bisa mengerti diamnya. Aku, sudah kubilang sebelumnya, hanya remaja yang baru berusia 17 tahun yang belum mengerti dan belum bisa belajar membaca keadaan, yang hanya bisa mengerti bagaimana cara menuntut tanpa memberikan keikhlasan tentang kehilangan yang kuhadapi kemudian.
Kita, maksudku, aku dan dia tak pernah berpisah secara seutuhnya kurasa karena sejak awal, aku merasa masih ada yang belum selesai. Egonya mungkin yang memaksanya untuk diam dan sangat sulit mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dia ingin aku mengerti apa yang dikatakan dalam diamnya itu. Andaikan saja aku bisa bahasa hujan, aku mau-mau saja mendengarkan ceritanya yang disampaikan lewat hujan itu. Tersirat bersama angin dan juga guruh yang dibawa turun bersama oleh rintikan airnya. Karenanya aku percaya, hujan adalah pendengar setia, dan mungkin dia berpendapat sama. Aku berusaha mendengarkannya, selalu berusaha menebak-nebak apa yang dipikirkannya. Sayangnya pendek pikiranku yang tak bisa menjangkau kesederhanaan cara berpikirnya. Aku hanya anak kecil yang terus merengek meminta dongeng mengenai apa yang dia rasakan padaku atau penjelasan mengenai apa yang dia lakukan. Padahal sejujurnya itu kurang penting untuk aku dan dia. Harusnya aku tak pernah meragukannya bahwa dia menyayangiku dengan caranya sendiri. Kalau saja dulu tak aku tanyakan, mungkin dia masih menyayangiku seperti dulu.
Ketika akhirnya aku dan dia terbatas dengan apa yang namanya “jarak”, aku berharap aku bisa mengikhlaskannya. Membawa pergi rasaku yang keterlaluan ini, membiarkan rasaku ini larut bersama rintik hujan yang telah sampai ke bumu. Membawanya terus mengalir hingga tak ada endapan yang tertinggal. Tapi, bukannya sungai selalu memiliki endapan didasarnya ? Ya ! Sungai memang selalu memiliki endapan didasarnya, endapan yang samalah yang masih tertinggal jauh didalam, disalah satu sudut kamar yang aku punya. Pernah kubaca sebuah cerita yang menyebutkan, jika hati kita diibaratkan 100x luas lapangan sepakbola, maka akan ada banyak kamar yang bisa dibuat disana. Masing-masing orang yang datang kehidup kita memiliki sebuah kamar. Jika kemudian orang itu pergi, tutuplah dan sertakan kunci kamar itu padanya, karena hanya orang itu yang dapat masuk dikamarnya sendiri. Tidak bisa tergantikan oleh orang lain. Bagiku, diapun sama, dia masih kuberi kamar istimewa di salah satu sudut hati. Bedanya, terserah dia apakah dia ingin kembali atau harus kututup kamar itu selamnya. Biarkan jarak dan waktu yang memainkan perannya kali ini.
Beberapa bulan lalu usianya 19 tahun, dan aku baru 19 tahun bulan ini. Aku belum sempat memberikan kado kecilku untuknya. Aku sedikit merasa bingung apakah aku masih harus memberinya hadiah kecil ini atau tidak. Aku takut dia berfikir berlebihan tentang aku yang sekarang ini. Tapi, hingga sekarang, sesak rasanya jika tak kuberikan hadiah kecil ini.Aku ingat, ketika usiaku 18 tahun, dia mengembalikan apa yang pernah aku berikan kepadanya. Burung yang berisi cerita awal kita dan sekotak tulisan harapanku kepadanya. Aku dan dia pernah punya masa yang menurutku benar-benar indah dimana aku dan dia berkhayal tentang mimpi-mimpi yang tak sesederhana kenyataannya, tenatang masa depan yang nyatanya sungguh jauh dari kenyataan yang kulakukan saat ini. Tak apa, itu masa lalu yang tak pantas untuk disesali. Tapi waktu itu, tangisku kembali tumpah. Tak ada hujan hari itu, jadinya perasaan yang kurasakan tak bisa kubawa pada hujan.
Hari ini hujan. Seharian penuh hujan turun yang membuatku kembali teringat kepadanya dalam diamku saat ini. Apakah dia bahagia sekarang ? Tentu dia bahagia bukan ? Entah pada siapa aku bertanya sekarang, hujan tak menjawab kali ini. Aku menebak saja, mungkin dia juga sedang bingung apakah dia bahagia atau tidak dengan hidupnya sekarang. Yasudahlah, aku juga tak tahu dan tak inin terlalu dalam mengingatnya kembali. Jujur, aku takut rasaku untuknya akan kembali bermunculan seperti jamur di musim hujan. Ingin kusampaikan padanya,
“Selamat ulang thun senjaku, semoga Tuhan medekatkanmu dengan kebahagiaan yang kau cari. Maafkan aku yang masih membawa kenangan bersamamu turut kedalam hidupku yang sekarang. Aku tahu, rasaku dan rasamu tak lahi sama, tapi aku juga tidak bisa berbohong kalau kau masih istimewa. Sama seperti ucapmu, kenangan kita memang benar-benar sulit dilupakan. 3tahun aku bertahan dengan rasa ini, tapi jarak dan waktu berhasil mengaburkannya. Aku sudah pernah bilang kan ? Aku telah mengikhlaskanmu, benar mengikhlaskanmu. Seperti langit yang mengikhlaskan hujan turn ke bumi. Bukannya kau juga pernah menyebut bahwa pelangi takkan indah jika hanya satu warna ? aku setuju. Pelangi memang takkan indah jika hanya satu warna. Jalani hidupmu dengan bahagia, warnai semampumu dengan apapun yang ingin kau capai. Yakinlah bahwa hidupmu kelak akan bahagia, sepertiku yang berusaha meyakini bahwa aku berusaha mengikhlaskan cerita kita.....selamat ulang tahun senja.....”
#####
Bersama rinai hujan kukatakan
Sedikit rindu yang terselip ketika aku mengingatmu
Banyak cara yang kulakukan untuk mengikhlaskanmu
Dan ketika kini jarak yang memainkan perannya,
Aku bisa menerima, bahwa kau jauh sekarang
Mungkin tak bisa diulangi kembali ketika aku dan kamu bahagia dulu
Maka, ijinkan aku menulis cerita yang baru dan menutup buku tentangmu
Tak seindah buku tentangmu memang, tapi inilah caraku mengikhlaskanmu ditelan jarak yang semakin nyata itu
Jujur kukatakan, tak ada yang mampu mebuatku terdiam saat seperti saat aku memandang matamu..
Tak kupingkiri, tak ada yang membuatku bergetar lagi ketika duduk bersama..
Aku tak bisa berbohong bahwa aku tak bisa menemukan yang sepadan denganmu, yang mampu membuatku benar-benar merasa terbang dan jatuh...
Biarkan sekali ini kukatakan pada hujan dan dirimu..
Aku merindukanmu, jauh-jauh didalam aku tak bisa berdusta bahwa hati kecilku masih menunggumu..
###
Untuk senja yang pernah ada di hidupku, sudah terlalu larut aku dalam angan-angan bodoh tentangmu. Tulisan-tulisan cengeng ketika usiaku belum 19 tahun nyatanya kutulis kembali ketika usiaku 19 tahun saat ini. Bukan aku masih berharap untuk bersamamu, hanya saja aku masih ingin sampaikan rinduku padamu. Kau tahu bukan kalau kau tetap istimewa untukku ? ya ! Sampai kapanpun kau tetap yang istimewa senja. Tapi aku yakin, jarak dan waktulah yang akan memainkan peran mereka dengan sempurna. Mengikis rasa yang masih sedikit tertinggal untukmu, hingga bisa kurelakan itu hanya sebuah kenangan kecil yang memang tak harus untuk terlalu kupikirkan.

Tuban, 21 Januari 2014
Ditengah hujan saat aku mengingatmu tengah malam

Bintang kecilmu

Belum Kusampaikan Rinduku

Sekarang pukul 3 lewat 52 menit. Aku masih terjaga, tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata. Kereta bisnis yang akku tumpangi akhirnya melaju kembali setelah sempat entah berapa jam berhenti saja di stasiun dengan santainya. Alasan sederhana, banjir, masalah yang seharusnya tidak lagi terjadi di negara kita yang kaya raya ini. Tapi, aku sendiri maklum jika beberapa kota saat ini terendam banjir. Kota yang aku lewati barusan, Ibu Kota Jawa tengah itu tergenang banjir sepanjang musim, bukan hanya penghujan saja dia tergenang, namin banjir air laut juga menggenangi tanpa pandang bulu. Entah itu musim hujan ataupun kemarau. Sekarangpun semarang masih tergenang banjir yang disisakan dari hujan kemarin sore. Aku merasa kereta yang seharusnya ekspress ini berjalan lambat lantaran rel yang ikut tergenang. Entah jadi apa negaraku ini besok. Aku berharap semoga negaraku menjadi lebih baik suatu saat.

Sekarang sudah pukul 4 pagi, nampaknya banjir benar-benar mebuat kereta yang aku naiki ini tak lagi berjalan express sesuai namanya. Pikiranku melayang tak tentu tujuannya. Aku diam saja sedari tadi walaupun dalam hati aku menggerutu karena bapak-bapak dibelakang tempat dududkku yang benar-benar asyik dengan tidurnya sambil berkicau dalam tidurnya. Dialah yang membuatku tak bisa tidur. Ditambah lagi rasa sakit biadab yang menyerang perutku. Ahh..penyakitku itu kukira sudah sembuh. Dan aku takut malah menjadi kronis sekarang.

Tiba-tiba otakku memikirkan seseorang yang beberapa hari kedepan akan kutemui. Ya...bisa dibilang dia yang membuatku tak lagi memikirkan senja saja. Dia berhasil menari-nari diotakku sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tak ingin menyebut namanya. Entahlah, sulit dijelaskan apa yang aku rasakan padanya. Kita masih sama-sama mahasiswa baru di salah satu Universitas yang punya cukup nama tenar dan bisa membuat semua siswa SMA ingin masuk. Aku dan dia di jurusan yang sama. Hanya 1 matkul saja kita sekelas, selebihnya, kita jauh. Tapi seabrek kegiatan mahasiswa baru di Jurusanlah yang membuat kita “dekat”. Pada awal kedekatanku dengannya, dia membuatku heran dengan pertanyaan-pertanyaanya yang beruntun setiap kali aku jalan dengan teman laki-lakiku. Dia ingin tahu sekali apa yang aku lakukan dengan temanku itu. Padahal sederhana saja, kita hanya jalan, makan ataupun nonton. Tak ada yang istimewa. Aku mulai berpikiran dia menyukaiku karena itu. Kemudian, ditambah lagi dengan rasa butuh dia terhadapku, iya, dia membutuhkanku untuk tugas-tugas kuliah. Dia sempat menjadi orang yang begitu perhatian terhadapku. Benar-benar perhatian ! Itulah yang membuatku pelan-pelan melihatnya, dia membuatku memperhatikannya lebih dalam secara sukarela, melakukan hal yang selama 3 tahun terakhir sangat kuhindari. Aku berangggapan bahwa jika aku memperhatikan orang lebih dalam hanya akan membuatku kecewa seperti sebelumnya. Iya, aku trauma ! Sungguh menggelikan jika dia tahu orang sepertiku belum bisa sembuh dari trauma tidak penting itu. Untungnya dia tidak perlu mengetahui rasa traumaku itu, dia membuatku sembuh dari traumaku dan mulai memperhatikannya. Hal kecil saja, ibadah, jam makan, tugas dan hal-hal kecil lainnya yang aku sampaikan kepadanya.

Jujur, aku tak sanggup rasanya jika harus berpikiran bahwa yang kurasakan itu suatu hal yang lebih. Tetapi, sulit juga menerima dia yang tiba-tiba mengabaikanku itu. Sebelumnya, dia selalu mengkhawatirkanku, mengkhawatirkan penyakit mag sialan yang mengikutiku, mengkhawatirkan fisikku yang mungkin drop karena latihan, dan memperhatikan yang lainnya. Aku tak bisa menolak kalau dia benar-benar manis saat memperthatikanku seperti itu. Senyum kecil selalu muncul ketika membaca pesan singkat darinya yang mengkhawatirkanku saat hingga hampir tengah malam aku belum selesai latihan. Saat itu, ingin sekali kukatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Trauma sialan itulah yang membuatku sedikit mengabaikan perhatiannya yang manis itu.

Aku bercerita cukup banyak hal kepadanya. Mencoba terbuka tentang diriku dan masalaluku. Bahkan aku menceritakan orang dari masalaluku kepadanya. Aku juga bercerita setiap kali orang tuaku menghubungiku di akhir pekan. Aku menceritakan detail pembicaraanku dengan ibuku kepadanya disela-sela kebingungannya dalam mengerjakan tugas yang selalu berujung ketenangannya jika tugas milikku telah kukirim padanya sebagai contoh. Dia selalu mentertawakanku setiap aku mengadu ketakutan padanya saat hujan tiba. Padahal aku benar-benar takut petir ! Kalu saja dia ada denganku saat hujan, dia ingin merangkulku untuk menenangkanku dan membuatku tidak takut. Bukan berarti aku dan dia tidak pernah bertengkar. Kalau boleh jujur lagi, aku dan dia benar-benar berbeda kepribadian. Aku yang dengan sesuka hati melakukan apapun yang aku lakukan dan tidak bisa diam, sementara dia yang selalu malas melakukan apapun. Seringkali aku memikirkan dia ada dam menungguku saat aku latihan atau ada pertandingan, dia tidak pernah ada nyatanya, itu karena aku dan dia berbeda. Itu yang menyesakkanku, saat dia, orang yang mulai kuperhatikan nyatanya sama saja berbeda dengan masalaluku, sama-sama kurang mendukung apa yang aku suka. Itu kekecewaan yang segera terobati begitu dia memberi perhatian yang manis kepadaku.

Aku meyakini perasaanku malam itu, ketika dia mengantarku pulang ke tempat kostku. Memang tak ada yang istimewa tentang percakapanku dengannya malam itu, tapi aku mulai sadar, ada rasa yang tak seharusnya yang mulai merayap ke otakku, meracuni semua logika yang kupunya hingga perbedaanku dengannya tak lagi menjadi bukan masalah. Aku tak berani berkata aku menyukainya, tapi itulah kenyatannya ! Aku menyukainya, dan aku tidak tahu apa yang dia rasakan. Aku hanya diam dengan yang kurasakan. Mendiamkannya dalam setiap pesan singkatku dengannya dan setiap kali jam kuliah ataupun nongkrong dengannya. Aku selalu menjadi pengecut untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan, aku hanya bisa diam dan melihatnya dengan pandangan yang berbeda sekarang. Bodohnya aku tidak membiarkannya tahu apa yang aku rasakan karena kau terlalu pengecut untuk berterus terang kepadanya.
***
Keretaku berjalan menembus fajar yang mendung dengan sedikit rintik hujan yang menempel di kaca jendela kereta. Tadi baru saja kereta ini melewati pantai utara yang sejak beberapa hari lalu ombaknya tidak bersahabat. Kabarnya akibat dari rekayasa cuaca yang dilakukan untuk mencegah banjir di Ibukota. Walaupun ombak pantai sedang tidak bersahabat, tetap saja ombak-ombak itu membuatku hatiku nyaman. Aku baru bangun dari tidurku karena telpon dari orang tuaku yang sedikit mengkhawatirkanku yang naik kereta sendiri. Aku kembali melihat pantai dan kembali mengingatnya.

Sesak...jika harus kuakui sesak dadaku ini dengan rasa
Sialnya hanya mampu aku diamkan dan membusuk dirongga dada
Apa kau tidak bisa menyadari tanpa aku ungkapkan ?
Apa tak sanggup kau tangkap mataku yang berbicara setiapkali aku diam memandangmu ?
Tak sampaikah nyanyian hujan padamu ?
Haruskah kukatakan secara nyata hujan itu menyampaikan rinduku ?
Aku jujur, ungkapku bukan candaan..
Aku merindukanmu..
Tanpa berani kuungkapkan padamu..
Hanya kusampaikan pada hujan rasa rinduku..
Berharap kau mengerti itu..
Tak pernahkan dalam kesendirianmu kau mengerti nyanyian hujan itu ??
Dalam hujan, itulah nyanyian rindu
Nyata, aku tak berpura-pura..
Tapi, tak mampu kuungkapkan aku punya rasa...
Mengertilah tanpa harus kuugkapkan...
Aku diam, karena aku sayang...

Entah apa, tiba-tiba dia menjauh. Awalnya aku berfikir itu sejenis rasa jenuh sesaat yang tak akan lama hilang dan berganti dengan perhatian-perhatiannya lagi. Beberapa waktu kunantikan kembali perhatiannya dalam pesan singkat yag biasa dia kirim menjelang malam atau disaat hujan datang. Tapi, perhatiannya tak kunjung datang. Aku bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan ceritaku sebelumnya ? apakah dia merasa lelah mendengarkan celotehku tentang masalaluku ? ataukah dia lelah karena kau tak pernah mendengarkannya saat aku sedang sibuk-sibuknya latihan ? Jika benar begitu, maafkan aku. Aku benar berharap dia bisa memaafkanku dan kembali memperhatikanku lagi. Aku merindukannya.
***
3 hari sudah aku berada di tempat kostku. Kemarin aku bertemu dengannya dalam kegiatan jurusan. Aku senang melihatnya. Aku senang melihat senyumnya. Tapi sesak rasanya karena aku hanya bisa melihatnya. Aku tak berani mengungkapkan apapun kepadanya. Aku tak mampu. Entah apalagi yang akan kutuliskan dalam ceritaku ini. Aku hanya ingin kelanjutan ceritaku kali ini berbeda dengan cerita yang mengecewakanku sebelumnya. Aku menyukainya tanpa jeda, dan aku ingin dia mengetahuinya.
***
Untuk seseorang yang mungkin tak pernah tau nyata perasaanku, ingin kuungkapkan padamu aku mulai menyayangimu dengan caraku. Dalam diamku ini, ingin kuceritakan betapa kau mampu membuatku tersenyum tentang hal kecil yang kau katakan. Membuatku tertawa ketika bagaimana kau menghiburku saat aku merasa sepi. Aku menyayangimu tanpa jeda. Dan aku ingin kau mengetahuinya...


Depok, 26 Januari 2014
Malam ketika aku telah bertemu denganmu kemarin.
Untukmu yang kusayangi dalam diamku

C_813

Selasa, Juli 24, 2012

Lilin Ulang Tahun

Malam ini,... Belasan, atau malah puluhan lilin berjajar....
Berjajar lurus kearah hati yang memang tak bertepuk sebelah tangan..
Aku disampingnya....

Senin, Mei 28, 2012

Sahabatmu....Tapi Bukan Sahabatku...

Sebenarnya sudah nggak penghen ungkit-ungkit dalam wujud dan bentuk apapun. Tapi rasanya sakit. Terlalu sakit kalo dia tidak tau apa yang kurasa. Dia bilang dia mengerti aku. Tapi itu ngk sepenuhnya. Dia ngk tau aku, dia ngk ngerti aku. Juga sama seperti sahabatnya yang dia dewa-dewakan itu, sahabatmu, bukan sahabatku sayang.....

Minggu, Mei 27, 2012

Aku Bisa Berlari Seperti Orang Normal


Ketika kamu terlahir dengan keadaan sedikit tidak normal, atau dengan sedikit kelainan yang terkadang terlihat jelas dan jadi sedikit masalah, pada awalnya, mungkin kamu akan mengeluh karena kamu belum bisa memaksimalkan kemampuanmu karena keterbatasanmu. Tapi, ketika kau tau bagaimana memaksimalkan keterbatasnmu itu, bahkan, jika kamu bisa mengalahkan seseorang yang kau anggap lebih daripada kamu, kamu akan jadi orang yang bersyukur walaupun kamu tidak jadi yang terbaik.

Rabu, Maret 07, 2012

Tuhan...... Aku Benci MalaikatMu...

Bukan hal yang menyenangkan ketika aku melihatnya. Tapi, perasaaanku sendiri yang menyiksaku dan membuat aku jadi seperti ini. Sebelumnya, hanya dari orang lain aku mendengar tingkahnya. Di kelas, di ekstra bahkan ulangtahun temannya.
Aku sebebnarnya sudah tidak membencinya. Tapi ternyata dia yang memulainya lagi. Awalnya pada saat turnamen itu. Sumpah !! Aku muak mendengar pengaduannya dan "membaca" alasannya kepadaku. Saat itu dia bahkan berbohong kalau dia kecelakaan dan dia juga mengatakan bahwa aku memarahinya. Aku benci itu. Lalu, sikapnya di kelas. Ditambah lagi sebuah tulisan yang membuatku hancur. Ada namanya dan nama orang yang kusayang di kertas itu.
Baru beberapa menit yang lalu, aku melihatnya berulah lagi. Sumpah aku sakit. Tapi, kenapa dia seperti itu..?? Apa maksudnya..???
Dia ingin semua orang sayang padanya..?? NGk mungkin !!! Kenapa dia begitu rakus ??? Aku benci dia...!!!
aku mengadu hanya pada Tuhan saja kali ini

Sabtu, Februari 25, 2012

Cerita sabtu Malam

Ini Sabtu malam Minggu atau yang tak ingin mendengar malam Minggu bisa aja dikatakan sabtu malam. Itu lebih baik kurasa. Malam ini, aku tak kenal apa itu indahnya malam minggu. Bukan karena aku sedang jomblo atau ngk laku, tapi karena pikiranku sendiri yang menyiksaku.
Aku baik-baik saja sebelumnya, sampai tengah malam dan kini lewat tengah malam, kelika hari Minggu sudah mengganti sabtu, aku masih terlarut dalam tulisanku ini. Saat ini, aku tidak ingin bicara.Aku hanya ingin menuliskan apa yang ada selama ini. Terkadang memang aku lebih nyaman ketika aku berbicara. Tapi, ada hal-hal tertentu juga yang tidak pernah bisa aku ungkapkan denga lisan ataupun dengan sekekdar status di jejaring sosial, akun Facebookku.
Aku ingat janji seseorang yang mau mengajakku ke Pacal. Tapi, tidak pernah sempat selama kurun waktu 8 bulan. Aku belum pernah kesana sekalipun. Awalnya, aku juga benar-benar ingin pergi kesana. Melihat waduk dan pemandangan disekitarnya. Aku suka pemandangan alam. Dan aku sudah tidak ingin pergi kesana lagi sejak saat ini. Benar-benar tidak ingin lagi. Terlalu sakit. 10 bulan berlalu setelah tanggal 4 Januari tahun lalu, dan itu memang bukan waktu yang singkat seperti yang kubayangkan. Dan hal-hal yang terjadi sepanjangnya tak sesederhana seperti yang kupikirkan. Ini mungkin iri dan juga cemburu.Tapi alasan itu cukup membuatku untuk tidak ingin pergi ke Pacal. Bahkan pergi ke tempat yang paling aku suka. Pantai.
Aku berusaha berpikir sederhana saat itu. Tapi tidak sesederhana itu tampaknya.

Kamis, April 21, 2011

Peluh Hitam Ayah Untukku

Hari minggu....
Aku sempatkan diriku untuk membereskan berkas-berkasku dan seluruh isi apartemenku yang memang sudah sangat tak karuan wujudnya. Buku-buku kuliahku dulu, draft-draft proposalku yang perlu direvisi, hasil-hasil risetku serta berkas-berkas lainnya. Semuanya aku keluarkan dari lemariku dan kuturunkan dari meja kerjaku. Ku sortir mana yang sekirannya masih kuperlukan. Dan yang sekirannya sudah tak kuperlukan, aku kumpulkan di kardus besar untuk kuloakkan.