11 Juni 2013
Setiap kita bertemu dengan orang yang baru, ada banyak hal yang mungkin bisa kita rasakan. Entah itu rasa nyaman, suka, benci, jijik, atau bahkan bermacam-macam rasa takut yang tidak bisa didefinisikan. Aku pun begitu. Ketika aku dipertemukan dengan 1 orang, dia, ada banyak rasa yang kurasakan. Sesal akan kehadirannya, nyaman karenanya, dan sangat takut kehilanggannya. Ya meskipun sudah terlalu banyak luka yang dibuat olehnya. Tapi, rasa takut kehilangan yang ada jauh lebih besar.
Ketika aku dan dia sudah tidak bisa lagi menjadi kita, yang tersisa cuma aku dan dia yang keduanya saling berdiri sendiri di ujung jalan masing-masing. Aku telah menemukan jalanku, dan diapun begitu. Dan jika ternyata jalanku dan jalannya adalah sebuah persimpangan, yang tidak bisa dilalui bersama alias tidak mau mengorbankan jalur masing-masing, aku akan memilih berjalan sendiri di jalan pilihanku. Aku yakin, dia akan melakukan hal yang sama.
Saat “kita” yang semakin lama semakin rapuh entah karena apa yang sedikit tak jelas itu, sedikit kecewaku kembali hadir. Saat kamu yang ternyata masih bermanis orang lain dan kembali dengan sikap apatis yang hanya mampu membuatku menangis. Ingat, “Cuma menangis” saja. Tidak sampai membuat hatiku mampu beranjak lagi.
Aku tetap sama seperti 3 tahun lalu. Ketika senyumku yang muncul saat kata indahmu mulai masuk ke darahku. Aku masih sama seperti 3 tahun lalu, ketika aku yang benar bahagia dengan pesan singkat di akun jejaring sosial milikmu. Aku tetap sama seperti 3 tahun lalu, yang tetap punya rasa yang sama terhadapmu. Aku tak pernah berubah hingga sekarang. Aku tetap “sayang kamu”. Aku tetap sama bodohnya seperti kemarin. Yang mau-maunya menunggu kamu yang bahkan tak kenal dirimu. Aku masih dengan bodohnya masih tetap tak bisa beranjak dan tetap menunggu kamu yang sudah lama mengabaikanku.
Karena setia dan bodoh itu setipis kertas. Entah aku ini setia atau mungkin aku bodoh. Tapi aku tetap belum bisa beranjak. Mungkin hanya masalah waktu, sampai kemudian jenuhmu yang akan menuju kearahku. Sehingga, akupun juga merasa jenuh seperti dirimu..(end)
Tetap untuk senjaku, ..
Aku sayang kamu.....
Ketika aku dan dia sudah tidak bisa lagi menjadi kita, yang tersisa cuma aku dan dia yang keduanya saling berdiri sendiri di ujung jalan masing-masing. Aku telah menemukan jalanku, dan diapun begitu. Dan jika ternyata jalanku dan jalannya adalah sebuah persimpangan, yang tidak bisa dilalui bersama alias tidak mau mengorbankan jalur masing-masing, aku akan memilih berjalan sendiri di jalan pilihanku. Aku yakin, dia akan melakukan hal yang sama.
Saat “kita” yang semakin lama semakin rapuh entah karena apa yang sedikit tak jelas itu, sedikit kecewaku kembali hadir. Saat kamu yang ternyata masih bermanis orang lain dan kembali dengan sikap apatis yang hanya mampu membuatku menangis. Ingat, “Cuma menangis” saja. Tidak sampai membuat hatiku mampu beranjak lagi.
Aku tetap sama seperti 3 tahun lalu. Ketika senyumku yang muncul saat kata indahmu mulai masuk ke darahku. Aku masih sama seperti 3 tahun lalu, ketika aku yang benar bahagia dengan pesan singkat di akun jejaring sosial milikmu. Aku tetap sama seperti 3 tahun lalu, yang tetap punya rasa yang sama terhadapmu. Aku tak pernah berubah hingga sekarang. Aku tetap “sayang kamu”. Aku tetap sama bodohnya seperti kemarin. Yang mau-maunya menunggu kamu yang bahkan tak kenal dirimu. Aku masih dengan bodohnya masih tetap tak bisa beranjak dan tetap menunggu kamu yang sudah lama mengabaikanku.
Karena setia dan bodoh itu setipis kertas. Entah aku ini setia atau mungkin aku bodoh. Tapi aku tetap belum bisa beranjak. Mungkin hanya masalah waktu, sampai kemudian jenuhmu yang akan menuju kearahku. Sehingga, akupun juga merasa jenuh seperti dirimu..(end)
Tetap untuk senjaku, ..
Aku sayang kamu.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar