TTL

Minggu, Januari 26, 2014

Bersama Sebentuk Kristal Hati yang Telah Kau Bawa Pergi


Jika indah senja hanya tinggal sebuah cerita,...
Ijinkan aku menyampaikannya,...
Sajak luka yang mungkin akan selalu kubawa...
Karena kulihat senja pergi tanpa peduli adanya....
Karna aku masih merasakan nafasnya...
Masih mendengar detak jantungnya...
Masih menikmati alunan melodi suaranya....
Dan masih kulihat pelangi disudut matanya yang tak sirna....
Senja...
Kelak jika memang kita terbang kearah berlawanan...
Akan kucoba kuatkan,...
Nafasku yang telah kau bawa pulang....
Senja...
Aku ingin kau dan aku jadi bintang...
Bintang yang bersinar menjadi mercusuar dalam pekat....
Senja...
Kalaupun engkau tak akan pernah datang, janjimu itu senja yang akan kujadikan pegangan....
---
Terlalu sulit....
Itu memang adanya. Aku benar benar sulit melupakannya. Entak kenapa, aku sendiri juga sedikit bingung. Pertemuanku dengannya tak semanis kisah-kisah cinta yang ada dalam buku maupun dalam cerita remaja televisi. Perkenalan yang sederhana. Berawal dari teman asrama yang memperkenalkanku padanya, hinga berujung curhatan-curhatan tentang cinta milikku dan miliknya sendiri. Aku bahagia, mendengar cerita indahnya. Tapi aku juga merasa ikut terluka ketika dia menguraikan kisah yang tak membuatnya tertawa. Ketika pada akhirnya cerita-ceritaku dan juga untaian ceritanya berujung pada kata-kata indah pada bulan yang penuh rahmat dari Tuhan, ada 1 untaian doa yang aku panjatkan,”Tuhan, jangan jauhkan dia dariku. Aku ingin dia yang menjadi takdirku untuk membimbingku dijalanmu.” Itu doaku dahulu.
Karna sang waktu juga yang membawa cinta, serta sang waktu juga yang membuatku merasakan indah hari-hari ketika bersamanya. Seperti kata-kata kuno, seolah dunia milik berdua. Yang lain cuma ngontrak. Benar-benar manis. Pada akhirnya waktu membuatku jauh darinya. Karna hanya salah kata yang terlalu sering kuucap. Karna posesifku yang malah membuatku tak mendapatkan apa-apa. Sungguh, aku hanya terlalu takut kehilangannya. Tapi itu nyata jawabanya, tepat 11 hari sebelum sempat kunikmati hari kelahiranku bersamanya. Dia pergi. Bukan salahnya memang. Tapi salahku yang tak bisa menjaganya dengan hati-hati. Yang hanya bisa terlalu protektif seperti anak kecil yang membawa kemanapun bonekanya. Sudah kukatakan. Aku hanya terlalu takut kehilangannya.
Depresiku kunikmati adanya. Hingga semuanya berantakan. Benar-benar berantakan. Aku, hatiku, otakku, bahkan sekolahku juga berantakan. Hingga saat kutemukan sedikit saja kedamaian bersama benda bulat sederhana, dan juga seorang kawan yang mengajariku jadi perempuat tegar yang seharusnya mengubur kenangan tentang kedamaian yang telah terbang dan coba mencari kedamaian yang lain. Sedetik itu, ketika aku bersama benda bulat itu, aku bisa mengalihkan otakku darinya. Dan sedetik itu juga, aku mampu mengalahkan kebutuhanku untuk memandang cahayanya.
Tapi, ketika kenyataan yang ada sungguh menyesatkan, aku kembali merasakan ruang pucat yang membuatku benar-benar merasa hilang arah. Ketika kutahu, takkan ada hati lagi untuk dibagi dengan orang sepertiku. Bahkan hati sebagai seoranng teman. Juluran tangan sebagai ucapan selamat harus terpuaskan dengan diam tanpa ada cacian. Itu mungkin cukup pantas. Sementara itu, didalamnya, kristal satu-satunya yang paling berharga perlahan-lahan menghitam. Aku bisa apa ? Aku tak bisa apa-apa. Itu cinta miliknya sekarang. Kupaksa diriku sendiri terlalu peduli dengan apapun tentangnya. Kembali kutenggelamkan diriku dalam dunia baru yang mampu membuatku sedikit merasa dunia itu indah walaupun tanpa dia adanya. Hanya mampu kusampaikan pada bangau kertas apa yang kurasakan ketika dia tak bersamaku saat itu.

Tahun ajaran berikutnya....
Ketika bulan yang terkadang jadi bulan ujian sekaligus bulan penuh nikmat-Nya kembali datang, dia dengan menawarkan sedikit kedamaian membuatku kembali tenggelam kedalam warna biru kembali. Bodoh memang, karena aku mau saja masuk kedalam warna biru itu kembali.
Tak ada yang salah dengan perdamaian. Itu yang menenangkan. Itu yang membuat aku belajar ketika aku sebelumnya tak bisa menemukan kedamaian. Bangau kertas tentang otakku yang sebenarnya sedikit tak waras karena kehilangannya kuberikan padanya. Tepat dihari ketika sang juru damai dunia lahir pada tanggal yang sama. Kulukiskan kembali masa yang pernah dibuatnya jadi benar-benar indah itu. Denga kata-kata harapan didalamnya, dan mungkin sedikit permintaan yang berujung senyum tulus yang tersajikan kembali untuk bintang kecil yang nyaris mati ini. Maka, kuibaratkan dia seperti langit malam. Yang tak hanya milik 1 bintang kecil ini saja, tapi juga punya bintang lain yang membuatnya begitu menakjubkan. Sungguh terlalu berlebihan aku meempatkannya ditempat terindah yang ada pada kristal yang kembali memerah.
            Banyak hal lagi yang kulukiskan bersamanya, Membuatku jauh-jauh lebih dalam jatuh dan rasa sakitnya sungguh indah. Seperti morfin yang membius, ketika tak ada lagi yang disuntikkan hanya sakau yang ditinggalkan. Mungkin seperti itu gambaranya. Jatuh, cemburu, sekolah bahkan masalah tersulit, aku sudah pernah melewatinya. Bukan membuatku gentar lantaran benteng itu tak mampu dihancurkan, tapi itu membuatku semakin kuat menggenggam mimpiku untuk tetap percaya bahwa aku untukknya. 1 kalimat yang dia ucapkan, “ Masalah itu anugerah dari Tuhan kepada hambaNya, bukan untuk membuat hambaNya lemah dan putus asa, tetapi membuat hambaNya belajar dan ingat kepada Tuhan.” Aku kembali tau. Ini berlebihan untuk remaja seusiaku. Tapi, ini nyata yang kurasakan.
            Mungkin dia lelah, sampai seolah-olah di terlihat menyerah. Mungkin terlalu keras aku mengajaknnya menentang arus yang kini kian deras. Semua kembali tak berpihak. Hingga rasanya tak sanggup kutangguhkan jika aku harus membiarkannya terjerat pelan-pelan. “Aku membebaskanmu, raih mimpimu, kejar cita-citamu,”Itu yang terucap dari bibirku. Dalam isakku, kusimpan janjimu dulu.

---
Untuk senjaku yang mungkin telah benar-benar pergi. Saat lantunan jujurku ingin kukatakan, aku tak bisa. Aku sudah bilang, aku iri kepadamu, iri dengan perasaanmu yang bisa dengan mudahnya datang dan pergi serta berganti. Sementara aku tetap diam disini, dan tak mampu kupaksa untuk ikut pergi tanpa peduli. Jujur ku samapaikan, aku merindukamu. Maaf....bintang kecil ini masih mengharapmu....




Bersama sebentuk kristal hati yang telah kau bawa pergi

ZaFa_98

Tidak ada komentar:

Posting Komentar