Usiaku 19 tahun. Ya..
itu saja, usiaku 19 tahun dan aku belom berarti apa-apa. Mungkin di usia ini
aku terlihat lebih sedikit dewasa. Percayalah, aku bukan lagi remaja usia 15
atau 17 tahun yang sedang bahagia karena telah menganggap dirinya dewasa. Aku 19
tahun, dan aku masih menyimpan cerita cengeng ketika usiaku belum genap 19
tahun. Cerita tentang seorang yang sederhana. Cerita yang menurutku sangat
istimewa sehingga tak bosan jika berulang-ulang kuceritakan. Dengan bahasa yang
sedikit berlebihan karena yang kurasakan dulu memang berlebihan untuk remaja
yang baru berusia 16 tahun.
Nama yang sederhana,
perkenalan yang sederhana, cerita yang dimulai dengan sederhana, namun rasa
yang kuyakini benar-benar tidak sederhana. Begitu pula jalan cerita yang kemudian
tertulis sedikit demi sedikit. Hingga terjalin setumpuk kenangan yang dulu
sempat kubilang sangat menyesakkan untuk diingat. Terlalu berlebihan jika
kupikir saat ini, aku benar-benar tak bisa berpaling darinya dulu. Kemudian aku
dan dia tidak bersama seperti cerita yang kuinginkan. Aku terpukul, sangat
terpukul awalnya. Aku yang masih benar-benar berharap harus memutuskan untuk
merelakannya. Bukan demi rasa yang dimilikinya untuk orang yang lain. Aku tahu
pasti, saat itu rasanya hanya untukku tapi cerita yang ada sudah terlalu kusut
untuk dilanjutkan. Hanya berjalan ditempat tanpa ada langkah semacam langkah
baru yang tak membuat rasa itu jenuh. Baru-baru ini aku tersadar, memang wajar
saja jika rasa jenuh itu ada pada dirinya, ketika aku yang tak sempurna ini tak
bisa mengerti diamnya. Aku, sudah kubilang sebelumnya, hanya remaja yang baru
berusia 17 tahun yang belum mengerti dan belum bisa belajar membaca keadaan,
yang hanya bisa mengerti bagaimana cara menuntut tanpa memberikan keikhlasan
tentang kehilangan yang kuhadapi kemudian.
Kita, maksudku, aku dan
dia tak pernah berpisah secara seutuhnya kurasa karena sejak awal, aku merasa
masih ada yang belum selesai. Egonya mungkin yang memaksanya untuk diam dan
sangat sulit mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dia ingin aku mengerti apa
yang dikatakan dalam diamnya itu. Andaikan saja aku bisa bahasa hujan, aku
mau-mau saja mendengarkan ceritanya yang disampaikan lewat hujan itu. Tersirat
bersama angin dan juga guruh yang dibawa turun bersama oleh rintikan airnya.
Karenanya aku percaya, hujan adalah pendengar setia, dan mungkin dia
berpendapat sama. Aku berusaha mendengarkannya, selalu berusaha menebak-nebak
apa yang dipikirkannya. Sayangnya pendek pikiranku yang tak bisa menjangkau
kesederhanaan cara berpikirnya. Aku hanya anak kecil yang terus merengek
meminta dongeng mengenai apa yang dia rasakan padaku atau penjelasan mengenai
apa yang dia lakukan. Padahal sejujurnya itu kurang penting untuk aku dan dia.
Harusnya aku tak pernah meragukannya bahwa dia menyayangiku dengan caranya
sendiri. Kalau saja dulu tak aku tanyakan, mungkin dia masih menyayangiku
seperti dulu.
Ketika akhirnya aku dan
dia terbatas dengan apa yang namanya “jarak”, aku berharap aku bisa
mengikhlaskannya. Membawa pergi rasaku yang keterlaluan ini, membiarkan rasaku
ini larut bersama rintik hujan yang telah sampai ke bumu. Membawanya terus
mengalir hingga tak ada endapan yang tertinggal. Tapi, bukannya sungai selalu
memiliki endapan didasarnya ? Ya ! Sungai memang selalu memiliki endapan didasarnya,
endapan yang samalah yang masih tertinggal jauh didalam, disalah satu sudut
kamar yang aku punya. Pernah kubaca sebuah cerita yang menyebutkan, jika hati
kita diibaratkan 100x luas lapangan sepakbola, maka akan ada banyak kamar yang
bisa dibuat disana. Masing-masing orang yang datang kehidup kita memiliki
sebuah kamar. Jika kemudian orang itu pergi, tutuplah dan sertakan kunci kamar
itu padanya, karena hanya orang itu yang dapat masuk dikamarnya sendiri. Tidak
bisa tergantikan oleh orang lain. Bagiku, diapun sama, dia masih kuberi kamar
istimewa di salah satu sudut hati. Bedanya, terserah dia apakah dia ingin
kembali atau harus kututup kamar itu selamnya. Biarkan jarak dan waktu yang
memainkan perannya kali ini.
Beberapa bulan lalu
usianya 19 tahun, dan aku baru 19 tahun bulan ini. Aku belum sempat memberikan
kado kecilku untuknya. Aku sedikit merasa bingung apakah aku masih harus
memberinya hadiah kecil ini atau tidak. Aku takut dia berfikir berlebihan
tentang aku yang sekarang ini. Tapi, hingga sekarang, sesak rasanya jika tak
kuberikan hadiah kecil ini.Aku ingat, ketika usiaku 18 tahun, dia mengembalikan
apa yang pernah aku berikan kepadanya. Burung yang berisi cerita awal kita dan
sekotak tulisan harapanku kepadanya. Aku dan dia pernah punya masa yang
menurutku benar-benar indah dimana aku dan dia berkhayal tentang mimpi-mimpi
yang tak sesederhana kenyataannya, tenatang masa depan yang nyatanya sungguh
jauh dari kenyataan yang kulakukan saat ini. Tak apa, itu masa lalu yang tak
pantas untuk disesali. Tapi waktu itu, tangisku kembali tumpah. Tak ada hujan
hari itu, jadinya perasaan yang kurasakan tak bisa kubawa pada hujan.
Hari ini hujan.
Seharian penuh hujan turun yang membuatku kembali teringat kepadanya dalam
diamku saat ini. Apakah dia bahagia sekarang ? Tentu dia bahagia bukan ? Entah
pada siapa aku bertanya sekarang, hujan tak menjawab kali ini. Aku menebak
saja, mungkin dia juga sedang bingung apakah dia bahagia atau tidak dengan
hidupnya sekarang. Yasudahlah, aku juga tak tahu dan tak inin terlalu dalam
mengingatnya kembali. Jujur, aku takut rasaku untuknya akan kembali bermunculan
seperti jamur di musim hujan. Ingin kusampaikan padanya,
“Selamat ulang thun
senjaku, semoga Tuhan medekatkanmu dengan kebahagiaan yang kau cari. Maafkan
aku yang masih membawa kenangan bersamamu turut kedalam hidupku yang sekarang.
Aku tahu, rasaku dan rasamu tak lahi sama, tapi aku juga tidak bisa berbohong
kalau kau masih istimewa. Sama seperti ucapmu, kenangan kita memang benar-benar
sulit dilupakan. 3tahun aku bertahan dengan rasa ini, tapi jarak dan waktu
berhasil mengaburkannya. Aku sudah pernah bilang kan ? Aku telah
mengikhlaskanmu, benar mengikhlaskanmu. Seperti langit yang mengikhlaskan hujan
turn ke bumi. Bukannya kau juga pernah menyebut bahwa pelangi takkan indah jika
hanya satu warna ? aku setuju. Pelangi memang takkan indah jika hanya satu
warna. Jalani hidupmu dengan bahagia, warnai semampumu dengan apapun yang ingin
kau capai. Yakinlah bahwa hidupmu kelak akan bahagia, sepertiku yang berusaha
meyakini bahwa aku berusaha mengikhlaskan cerita kita.....selamat ulang tahun
senja.....”
#####
Bersama rinai hujan
kukatakan
Sedikit rindu yang
terselip ketika aku mengingatmu
Banyak cara yang
kulakukan untuk mengikhlaskanmu
Dan ketika kini jarak
yang memainkan perannya,
Aku bisa menerima,
bahwa kau jauh sekarang
Mungkin tak bisa
diulangi kembali ketika aku dan kamu bahagia dulu
Maka, ijinkan aku
menulis cerita yang baru dan menutup buku tentangmu
Tak seindah buku
tentangmu memang, tapi inilah caraku mengikhlaskanmu ditelan jarak yang semakin
nyata itu
Jujur kukatakan, tak
ada yang mampu mebuatku terdiam saat seperti saat aku memandang matamu..
Tak kupingkiri, tak ada
yang membuatku bergetar lagi ketika duduk bersama..
Aku tak bisa berbohong
bahwa aku tak bisa menemukan yang sepadan denganmu, yang mampu membuatku
benar-benar merasa terbang dan jatuh...
Biarkan sekali ini
kukatakan pada hujan dan dirimu..
Aku merindukanmu, jauh-jauh
didalam aku tak bisa berdusta bahwa hati kecilku masih menunggumu..
###
Untuk senja yang pernah ada di hidupku,
sudah terlalu larut aku dalam angan-angan bodoh tentangmu. Tulisan-tulisan
cengeng ketika usiaku belum 19 tahun nyatanya kutulis kembali ketika usiaku 19
tahun saat ini. Bukan aku masih berharap untuk bersamamu, hanya saja aku masih
ingin sampaikan rinduku padamu. Kau tahu bukan kalau kau tetap istimewa untukku
? ya ! Sampai kapanpun kau tetap yang istimewa senja. Tapi aku yakin, jarak dan
waktulah yang akan memainkan peran mereka dengan sempurna. Mengikis rasa yang masih
sedikit tertinggal untukmu, hingga bisa kurelakan itu hanya sebuah kenangan
kecil yang memang tak harus untuk terlalu kupikirkan.
Tuban, 21 Januari 2014
Ditengah hujan saat aku mengingatmu
tengah malam
Bintang kecilmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar