TTL

Minggu, Januari 26, 2014

Cerita Harus Selesai

Usiaku 19 tahun. Ya.. itu saja, usiaku 19 tahun dan aku belom berarti apa-apa. Mungkin di usia ini aku terlihat lebih sedikit dewasa. Percayalah, aku bukan lagi remaja usia 15 atau 17 tahun yang sedang bahagia karena telah menganggap dirinya dewasa. Aku 19 tahun, dan aku masih menyimpan cerita cengeng ketika usiaku belum genap 19 tahun. Cerita tentang seorang yang sederhana. Cerita yang menurutku sangat istimewa sehingga tak bosan jika berulang-ulang kuceritakan. Dengan bahasa yang sedikit berlebihan karena yang kurasakan dulu memang berlebihan untuk remaja yang baru berusia 16 tahun.
Nama yang sederhana, perkenalan yang sederhana, cerita yang dimulai dengan sederhana, namun rasa yang kuyakini benar-benar tidak sederhana. Begitu pula jalan cerita yang kemudian tertulis sedikit demi sedikit. Hingga terjalin setumpuk kenangan yang dulu sempat kubilang sangat menyesakkan untuk diingat. Terlalu berlebihan jika kupikir saat ini, aku benar-benar tak bisa berpaling darinya dulu. Kemudian aku dan dia tidak bersama seperti cerita yang kuinginkan. Aku terpukul, sangat terpukul awalnya. Aku yang masih benar-benar berharap harus memutuskan untuk merelakannya. Bukan demi rasa yang dimilikinya untuk orang yang lain. Aku tahu pasti, saat itu rasanya hanya untukku tapi cerita yang ada sudah terlalu kusut untuk dilanjutkan. Hanya berjalan ditempat tanpa ada langkah semacam langkah baru yang tak membuat rasa itu jenuh. Baru-baru ini aku tersadar, memang wajar saja jika rasa jenuh itu ada pada dirinya, ketika aku yang tak sempurna ini tak bisa mengerti diamnya. Aku, sudah kubilang sebelumnya, hanya remaja yang baru berusia 17 tahun yang belum mengerti dan belum bisa belajar membaca keadaan, yang hanya bisa mengerti bagaimana cara menuntut tanpa memberikan keikhlasan tentang kehilangan yang kuhadapi kemudian.
Kita, maksudku, aku dan dia tak pernah berpisah secara seutuhnya kurasa karena sejak awal, aku merasa masih ada yang belum selesai. Egonya mungkin yang memaksanya untuk diam dan sangat sulit mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dia ingin aku mengerti apa yang dikatakan dalam diamnya itu. Andaikan saja aku bisa bahasa hujan, aku mau-mau saja mendengarkan ceritanya yang disampaikan lewat hujan itu. Tersirat bersama angin dan juga guruh yang dibawa turun bersama oleh rintikan airnya. Karenanya aku percaya, hujan adalah pendengar setia, dan mungkin dia berpendapat sama. Aku berusaha mendengarkannya, selalu berusaha menebak-nebak apa yang dipikirkannya. Sayangnya pendek pikiranku yang tak bisa menjangkau kesederhanaan cara berpikirnya. Aku hanya anak kecil yang terus merengek meminta dongeng mengenai apa yang dia rasakan padaku atau penjelasan mengenai apa yang dia lakukan. Padahal sejujurnya itu kurang penting untuk aku dan dia. Harusnya aku tak pernah meragukannya bahwa dia menyayangiku dengan caranya sendiri. Kalau saja dulu tak aku tanyakan, mungkin dia masih menyayangiku seperti dulu.
Ketika akhirnya aku dan dia terbatas dengan apa yang namanya “jarak”, aku berharap aku bisa mengikhlaskannya. Membawa pergi rasaku yang keterlaluan ini, membiarkan rasaku ini larut bersama rintik hujan yang telah sampai ke bumu. Membawanya terus mengalir hingga tak ada endapan yang tertinggal. Tapi, bukannya sungai selalu memiliki endapan didasarnya ? Ya ! Sungai memang selalu memiliki endapan didasarnya, endapan yang samalah yang masih tertinggal jauh didalam, disalah satu sudut kamar yang aku punya. Pernah kubaca sebuah cerita yang menyebutkan, jika hati kita diibaratkan 100x luas lapangan sepakbola, maka akan ada banyak kamar yang bisa dibuat disana. Masing-masing orang yang datang kehidup kita memiliki sebuah kamar. Jika kemudian orang itu pergi, tutuplah dan sertakan kunci kamar itu padanya, karena hanya orang itu yang dapat masuk dikamarnya sendiri. Tidak bisa tergantikan oleh orang lain. Bagiku, diapun sama, dia masih kuberi kamar istimewa di salah satu sudut hati. Bedanya, terserah dia apakah dia ingin kembali atau harus kututup kamar itu selamnya. Biarkan jarak dan waktu yang memainkan perannya kali ini.
Beberapa bulan lalu usianya 19 tahun, dan aku baru 19 tahun bulan ini. Aku belum sempat memberikan kado kecilku untuknya. Aku sedikit merasa bingung apakah aku masih harus memberinya hadiah kecil ini atau tidak. Aku takut dia berfikir berlebihan tentang aku yang sekarang ini. Tapi, hingga sekarang, sesak rasanya jika tak kuberikan hadiah kecil ini.Aku ingat, ketika usiaku 18 tahun, dia mengembalikan apa yang pernah aku berikan kepadanya. Burung yang berisi cerita awal kita dan sekotak tulisan harapanku kepadanya. Aku dan dia pernah punya masa yang menurutku benar-benar indah dimana aku dan dia berkhayal tentang mimpi-mimpi yang tak sesederhana kenyataannya, tenatang masa depan yang nyatanya sungguh jauh dari kenyataan yang kulakukan saat ini. Tak apa, itu masa lalu yang tak pantas untuk disesali. Tapi waktu itu, tangisku kembali tumpah. Tak ada hujan hari itu, jadinya perasaan yang kurasakan tak bisa kubawa pada hujan.
Hari ini hujan. Seharian penuh hujan turun yang membuatku kembali teringat kepadanya dalam diamku saat ini. Apakah dia bahagia sekarang ? Tentu dia bahagia bukan ? Entah pada siapa aku bertanya sekarang, hujan tak menjawab kali ini. Aku menebak saja, mungkin dia juga sedang bingung apakah dia bahagia atau tidak dengan hidupnya sekarang. Yasudahlah, aku juga tak tahu dan tak inin terlalu dalam mengingatnya kembali. Jujur, aku takut rasaku untuknya akan kembali bermunculan seperti jamur di musim hujan. Ingin kusampaikan padanya,
“Selamat ulang thun senjaku, semoga Tuhan medekatkanmu dengan kebahagiaan yang kau cari. Maafkan aku yang masih membawa kenangan bersamamu turut kedalam hidupku yang sekarang. Aku tahu, rasaku dan rasamu tak lahi sama, tapi aku juga tidak bisa berbohong kalau kau masih istimewa. Sama seperti ucapmu, kenangan kita memang benar-benar sulit dilupakan. 3tahun aku bertahan dengan rasa ini, tapi jarak dan waktu berhasil mengaburkannya. Aku sudah pernah bilang kan ? Aku telah mengikhlaskanmu, benar mengikhlaskanmu. Seperti langit yang mengikhlaskan hujan turn ke bumi. Bukannya kau juga pernah menyebut bahwa pelangi takkan indah jika hanya satu warna ? aku setuju. Pelangi memang takkan indah jika hanya satu warna. Jalani hidupmu dengan bahagia, warnai semampumu dengan apapun yang ingin kau capai. Yakinlah bahwa hidupmu kelak akan bahagia, sepertiku yang berusaha meyakini bahwa aku berusaha mengikhlaskan cerita kita.....selamat ulang tahun senja.....”
#####
Bersama rinai hujan kukatakan
Sedikit rindu yang terselip ketika aku mengingatmu
Banyak cara yang kulakukan untuk mengikhlaskanmu
Dan ketika kini jarak yang memainkan perannya,
Aku bisa menerima, bahwa kau jauh sekarang
Mungkin tak bisa diulangi kembali ketika aku dan kamu bahagia dulu
Maka, ijinkan aku menulis cerita yang baru dan menutup buku tentangmu
Tak seindah buku tentangmu memang, tapi inilah caraku mengikhlaskanmu ditelan jarak yang semakin nyata itu
Jujur kukatakan, tak ada yang mampu mebuatku terdiam saat seperti saat aku memandang matamu..
Tak kupingkiri, tak ada yang membuatku bergetar lagi ketika duduk bersama..
Aku tak bisa berbohong bahwa aku tak bisa menemukan yang sepadan denganmu, yang mampu membuatku benar-benar merasa terbang dan jatuh...
Biarkan sekali ini kukatakan pada hujan dan dirimu..
Aku merindukanmu, jauh-jauh didalam aku tak bisa berdusta bahwa hati kecilku masih menunggumu..
###
Untuk senja yang pernah ada di hidupku, sudah terlalu larut aku dalam angan-angan bodoh tentangmu. Tulisan-tulisan cengeng ketika usiaku belum 19 tahun nyatanya kutulis kembali ketika usiaku 19 tahun saat ini. Bukan aku masih berharap untuk bersamamu, hanya saja aku masih ingin sampaikan rinduku padamu. Kau tahu bukan kalau kau tetap istimewa untukku ? ya ! Sampai kapanpun kau tetap yang istimewa senja. Tapi aku yakin, jarak dan waktulah yang akan memainkan peran mereka dengan sempurna. Mengikis rasa yang masih sedikit tertinggal untukmu, hingga bisa kurelakan itu hanya sebuah kenangan kecil yang memang tak harus untuk terlalu kupikirkan.

Tuban, 21 Januari 2014
Ditengah hujan saat aku mengingatmu tengah malam

Bintang kecilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar