TTL

Minggu, Januari 26, 2014

Belum Kusampaikan Rinduku

Sekarang pukul 3 lewat 52 menit. Aku masih terjaga, tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata. Kereta bisnis yang akku tumpangi akhirnya melaju kembali setelah sempat entah berapa jam berhenti saja di stasiun dengan santainya. Alasan sederhana, banjir, masalah yang seharusnya tidak lagi terjadi di negara kita yang kaya raya ini. Tapi, aku sendiri maklum jika beberapa kota saat ini terendam banjir. Kota yang aku lewati barusan, Ibu Kota Jawa tengah itu tergenang banjir sepanjang musim, bukan hanya penghujan saja dia tergenang, namin banjir air laut juga menggenangi tanpa pandang bulu. Entah itu musim hujan ataupun kemarau. Sekarangpun semarang masih tergenang banjir yang disisakan dari hujan kemarin sore. Aku merasa kereta yang seharusnya ekspress ini berjalan lambat lantaran rel yang ikut tergenang. Entah jadi apa negaraku ini besok. Aku berharap semoga negaraku menjadi lebih baik suatu saat.

Sekarang sudah pukul 4 pagi, nampaknya banjir benar-benar mebuat kereta yang aku naiki ini tak lagi berjalan express sesuai namanya. Pikiranku melayang tak tentu tujuannya. Aku diam saja sedari tadi walaupun dalam hati aku menggerutu karena bapak-bapak dibelakang tempat dududkku yang benar-benar asyik dengan tidurnya sambil berkicau dalam tidurnya. Dialah yang membuatku tak bisa tidur. Ditambah lagi rasa sakit biadab yang menyerang perutku. Ahh..penyakitku itu kukira sudah sembuh. Dan aku takut malah menjadi kronis sekarang.

Tiba-tiba otakku memikirkan seseorang yang beberapa hari kedepan akan kutemui. Ya...bisa dibilang dia yang membuatku tak lagi memikirkan senja saja. Dia berhasil menari-nari diotakku sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tak ingin menyebut namanya. Entahlah, sulit dijelaskan apa yang aku rasakan padanya. Kita masih sama-sama mahasiswa baru di salah satu Universitas yang punya cukup nama tenar dan bisa membuat semua siswa SMA ingin masuk. Aku dan dia di jurusan yang sama. Hanya 1 matkul saja kita sekelas, selebihnya, kita jauh. Tapi seabrek kegiatan mahasiswa baru di Jurusanlah yang membuat kita “dekat”. Pada awal kedekatanku dengannya, dia membuatku heran dengan pertanyaan-pertanyaanya yang beruntun setiap kali aku jalan dengan teman laki-lakiku. Dia ingin tahu sekali apa yang aku lakukan dengan temanku itu. Padahal sederhana saja, kita hanya jalan, makan ataupun nonton. Tak ada yang istimewa. Aku mulai berpikiran dia menyukaiku karena itu. Kemudian, ditambah lagi dengan rasa butuh dia terhadapku, iya, dia membutuhkanku untuk tugas-tugas kuliah. Dia sempat menjadi orang yang begitu perhatian terhadapku. Benar-benar perhatian ! Itulah yang membuatku pelan-pelan melihatnya, dia membuatku memperhatikannya lebih dalam secara sukarela, melakukan hal yang selama 3 tahun terakhir sangat kuhindari. Aku berangggapan bahwa jika aku memperhatikan orang lebih dalam hanya akan membuatku kecewa seperti sebelumnya. Iya, aku trauma ! Sungguh menggelikan jika dia tahu orang sepertiku belum bisa sembuh dari trauma tidak penting itu. Untungnya dia tidak perlu mengetahui rasa traumaku itu, dia membuatku sembuh dari traumaku dan mulai memperhatikannya. Hal kecil saja, ibadah, jam makan, tugas dan hal-hal kecil lainnya yang aku sampaikan kepadanya.

Jujur, aku tak sanggup rasanya jika harus berpikiran bahwa yang kurasakan itu suatu hal yang lebih. Tetapi, sulit juga menerima dia yang tiba-tiba mengabaikanku itu. Sebelumnya, dia selalu mengkhawatirkanku, mengkhawatirkan penyakit mag sialan yang mengikutiku, mengkhawatirkan fisikku yang mungkin drop karena latihan, dan memperhatikan yang lainnya. Aku tak bisa menolak kalau dia benar-benar manis saat memperthatikanku seperti itu. Senyum kecil selalu muncul ketika membaca pesan singkat darinya yang mengkhawatirkanku saat hingga hampir tengah malam aku belum selesai latihan. Saat itu, ingin sekali kukatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Trauma sialan itulah yang membuatku sedikit mengabaikan perhatiannya yang manis itu.

Aku bercerita cukup banyak hal kepadanya. Mencoba terbuka tentang diriku dan masalaluku. Bahkan aku menceritakan orang dari masalaluku kepadanya. Aku juga bercerita setiap kali orang tuaku menghubungiku di akhir pekan. Aku menceritakan detail pembicaraanku dengan ibuku kepadanya disela-sela kebingungannya dalam mengerjakan tugas yang selalu berujung ketenangannya jika tugas milikku telah kukirim padanya sebagai contoh. Dia selalu mentertawakanku setiap aku mengadu ketakutan padanya saat hujan tiba. Padahal aku benar-benar takut petir ! Kalu saja dia ada denganku saat hujan, dia ingin merangkulku untuk menenangkanku dan membuatku tidak takut. Bukan berarti aku dan dia tidak pernah bertengkar. Kalau boleh jujur lagi, aku dan dia benar-benar berbeda kepribadian. Aku yang dengan sesuka hati melakukan apapun yang aku lakukan dan tidak bisa diam, sementara dia yang selalu malas melakukan apapun. Seringkali aku memikirkan dia ada dam menungguku saat aku latihan atau ada pertandingan, dia tidak pernah ada nyatanya, itu karena aku dan dia berbeda. Itu yang menyesakkanku, saat dia, orang yang mulai kuperhatikan nyatanya sama saja berbeda dengan masalaluku, sama-sama kurang mendukung apa yang aku suka. Itu kekecewaan yang segera terobati begitu dia memberi perhatian yang manis kepadaku.

Aku meyakini perasaanku malam itu, ketika dia mengantarku pulang ke tempat kostku. Memang tak ada yang istimewa tentang percakapanku dengannya malam itu, tapi aku mulai sadar, ada rasa yang tak seharusnya yang mulai merayap ke otakku, meracuni semua logika yang kupunya hingga perbedaanku dengannya tak lagi menjadi bukan masalah. Aku tak berani berkata aku menyukainya, tapi itulah kenyatannya ! Aku menyukainya, dan aku tidak tahu apa yang dia rasakan. Aku hanya diam dengan yang kurasakan. Mendiamkannya dalam setiap pesan singkatku dengannya dan setiap kali jam kuliah ataupun nongkrong dengannya. Aku selalu menjadi pengecut untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan, aku hanya bisa diam dan melihatnya dengan pandangan yang berbeda sekarang. Bodohnya aku tidak membiarkannya tahu apa yang aku rasakan karena kau terlalu pengecut untuk berterus terang kepadanya.
***
Keretaku berjalan menembus fajar yang mendung dengan sedikit rintik hujan yang menempel di kaca jendela kereta. Tadi baru saja kereta ini melewati pantai utara yang sejak beberapa hari lalu ombaknya tidak bersahabat. Kabarnya akibat dari rekayasa cuaca yang dilakukan untuk mencegah banjir di Ibukota. Walaupun ombak pantai sedang tidak bersahabat, tetap saja ombak-ombak itu membuatku hatiku nyaman. Aku baru bangun dari tidurku karena telpon dari orang tuaku yang sedikit mengkhawatirkanku yang naik kereta sendiri. Aku kembali melihat pantai dan kembali mengingatnya.

Sesak...jika harus kuakui sesak dadaku ini dengan rasa
Sialnya hanya mampu aku diamkan dan membusuk dirongga dada
Apa kau tidak bisa menyadari tanpa aku ungkapkan ?
Apa tak sanggup kau tangkap mataku yang berbicara setiapkali aku diam memandangmu ?
Tak sampaikah nyanyian hujan padamu ?
Haruskah kukatakan secara nyata hujan itu menyampaikan rinduku ?
Aku jujur, ungkapku bukan candaan..
Aku merindukanmu..
Tanpa berani kuungkapkan padamu..
Hanya kusampaikan pada hujan rasa rinduku..
Berharap kau mengerti itu..
Tak pernahkan dalam kesendirianmu kau mengerti nyanyian hujan itu ??
Dalam hujan, itulah nyanyian rindu
Nyata, aku tak berpura-pura..
Tapi, tak mampu kuungkapkan aku punya rasa...
Mengertilah tanpa harus kuugkapkan...
Aku diam, karena aku sayang...

Entah apa, tiba-tiba dia menjauh. Awalnya aku berfikir itu sejenis rasa jenuh sesaat yang tak akan lama hilang dan berganti dengan perhatian-perhatiannya lagi. Beberapa waktu kunantikan kembali perhatiannya dalam pesan singkat yag biasa dia kirim menjelang malam atau disaat hujan datang. Tapi, perhatiannya tak kunjung datang. Aku bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan ceritaku sebelumnya ? apakah dia merasa lelah mendengarkan celotehku tentang masalaluku ? ataukah dia lelah karena kau tak pernah mendengarkannya saat aku sedang sibuk-sibuknya latihan ? Jika benar begitu, maafkan aku. Aku benar berharap dia bisa memaafkanku dan kembali memperhatikanku lagi. Aku merindukannya.
***
3 hari sudah aku berada di tempat kostku. Kemarin aku bertemu dengannya dalam kegiatan jurusan. Aku senang melihatnya. Aku senang melihat senyumnya. Tapi sesak rasanya karena aku hanya bisa melihatnya. Aku tak berani mengungkapkan apapun kepadanya. Aku tak mampu. Entah apalagi yang akan kutuliskan dalam ceritaku ini. Aku hanya ingin kelanjutan ceritaku kali ini berbeda dengan cerita yang mengecewakanku sebelumnya. Aku menyukainya tanpa jeda, dan aku ingin dia mengetahuinya.
***
Untuk seseorang yang mungkin tak pernah tau nyata perasaanku, ingin kuungkapkan padamu aku mulai menyayangimu dengan caraku. Dalam diamku ini, ingin kuceritakan betapa kau mampu membuatku tersenyum tentang hal kecil yang kau katakan. Membuatku tertawa ketika bagaimana kau menghiburku saat aku merasa sepi. Aku menyayangimu tanpa jeda. Dan aku ingin kau mengetahuinya...


Depok, 26 Januari 2014
Malam ketika aku telah bertemu denganmu kemarin.
Untukmu yang kusayangi dalam diamku

C_813

Tidak ada komentar:

Posting Komentar