Sekarang pukul 3 lewat 52 menit. Aku
masih terjaga, tak sedetikpun aku bisa memejamkan mata. Kereta bisnis yang akku
tumpangi akhirnya melaju kembali setelah sempat entah berapa jam berhenti saja
di stasiun dengan santainya. Alasan sederhana, banjir, masalah yang seharusnya
tidak lagi terjadi di negara kita yang kaya raya ini. Tapi, aku sendiri maklum
jika beberapa kota saat ini terendam banjir. Kota yang aku lewati barusan, Ibu
Kota Jawa tengah itu tergenang banjir sepanjang musim, bukan hanya penghujan saja
dia tergenang, namin banjir air laut juga menggenangi tanpa pandang bulu. Entah
itu musim hujan ataupun kemarau. Sekarangpun semarang masih tergenang banjir
yang disisakan dari hujan kemarin sore. Aku merasa kereta yang seharusnya
ekspress ini berjalan lambat lantaran rel yang ikut tergenang. Entah jadi apa
negaraku ini besok. Aku berharap semoga negaraku menjadi lebih baik suatu saat.
Sekarang sudah pukul 4 pagi, nampaknya
banjir benar-benar mebuat kereta yang aku naiki ini tak lagi berjalan express
sesuai namanya. Pikiranku melayang tak tentu tujuannya. Aku diam saja sedari
tadi walaupun dalam hati aku menggerutu karena bapak-bapak dibelakang tempat
dududkku yang benar-benar asyik dengan tidurnya sambil berkicau dalam tidurnya.
Dialah yang membuatku tak bisa tidur. Ditambah lagi rasa sakit biadab yang
menyerang perutku. Ahh..penyakitku itu kukira sudah sembuh. Dan aku takut malah
menjadi kronis sekarang.
Tiba-tiba otakku memikirkan seseorang
yang beberapa hari kedepan akan kutemui. Ya...bisa dibilang dia yang membuatku
tak lagi memikirkan senja saja. Dia berhasil menari-nari diotakku sejak
beberapa bulan yang lalu. Aku tak ingin menyebut namanya. Entahlah, sulit
dijelaskan apa yang aku rasakan padanya. Kita masih sama-sama mahasiswa baru di
salah satu Universitas yang punya cukup nama tenar dan bisa membuat semua siswa
SMA ingin masuk. Aku dan dia di jurusan yang sama. Hanya 1 matkul saja kita
sekelas, selebihnya, kita jauh. Tapi seabrek kegiatan mahasiswa baru di
Jurusanlah yang membuat kita “dekat”. Pada awal kedekatanku dengannya, dia
membuatku heran dengan pertanyaan-pertanyaanya yang beruntun setiap kali aku
jalan dengan teman laki-lakiku. Dia ingin tahu sekali apa yang aku lakukan
dengan temanku itu. Padahal sederhana saja, kita hanya jalan, makan ataupun
nonton. Tak ada yang istimewa. Aku mulai berpikiran dia menyukaiku karena itu.
Kemudian, ditambah lagi dengan rasa butuh dia terhadapku, iya, dia
membutuhkanku untuk tugas-tugas kuliah. Dia sempat menjadi orang yang begitu
perhatian terhadapku. Benar-benar perhatian ! Itulah yang membuatku pelan-pelan
melihatnya, dia membuatku memperhatikannya lebih dalam secara sukarela,
melakukan hal yang selama 3 tahun terakhir sangat kuhindari. Aku berangggapan
bahwa jika aku memperhatikan orang lebih dalam hanya akan membuatku kecewa
seperti sebelumnya. Iya, aku trauma ! Sungguh menggelikan jika dia tahu orang
sepertiku belum bisa sembuh dari trauma tidak penting itu. Untungnya dia tidak
perlu mengetahui rasa traumaku itu, dia membuatku sembuh dari traumaku dan mulai
memperhatikannya. Hal kecil saja, ibadah, jam makan, tugas dan hal-hal kecil
lainnya yang aku sampaikan kepadanya.
Jujur, aku tak sanggup rasanya jika
harus berpikiran bahwa yang kurasakan itu suatu hal yang lebih. Tetapi, sulit
juga menerima dia yang tiba-tiba mengabaikanku itu. Sebelumnya, dia selalu
mengkhawatirkanku, mengkhawatirkan penyakit mag sialan yang mengikutiku,
mengkhawatirkan fisikku yang mungkin drop karena latihan, dan memperhatikan
yang lainnya. Aku tak bisa menolak kalau dia benar-benar manis saat
memperthatikanku seperti itu. Senyum kecil selalu muncul ketika membaca pesan
singkat darinya yang mengkhawatirkanku saat hingga hampir tengah malam aku
belum selesai latihan. Saat itu, ingin sekali kukatakan padanya bahwa aku
baik-baik saja. Trauma sialan itulah yang membuatku sedikit mengabaikan
perhatiannya yang manis itu.
Aku bercerita cukup banyak hal
kepadanya. Mencoba terbuka tentang diriku dan masalaluku. Bahkan aku
menceritakan orang dari masalaluku kepadanya. Aku juga bercerita setiap kali
orang tuaku menghubungiku di akhir pekan. Aku menceritakan detail pembicaraanku
dengan ibuku kepadanya disela-sela kebingungannya dalam mengerjakan tugas yang
selalu berujung ketenangannya jika tugas milikku telah kukirim padanya sebagai
contoh. Dia selalu mentertawakanku setiap aku mengadu ketakutan padanya saat
hujan tiba. Padahal aku benar-benar takut petir ! Kalu saja dia ada denganku
saat hujan, dia ingin merangkulku untuk menenangkanku dan membuatku tidak
takut. Bukan berarti aku dan dia tidak pernah bertengkar. Kalau boleh jujur
lagi, aku dan dia benar-benar berbeda kepribadian. Aku yang dengan sesuka hati
melakukan apapun yang aku lakukan dan tidak bisa diam, sementara dia yang
selalu malas melakukan apapun. Seringkali aku memikirkan dia ada dam menungguku
saat aku latihan atau ada pertandingan, dia tidak pernah ada nyatanya, itu
karena aku dan dia berbeda. Itu yang menyesakkanku, saat dia, orang yang mulai
kuperhatikan nyatanya sama saja berbeda dengan masalaluku, sama-sama kurang
mendukung apa yang aku suka. Itu kekecewaan yang segera terobati begitu dia
memberi perhatian yang manis kepadaku.
Aku meyakini perasaanku malam itu,
ketika dia mengantarku pulang ke tempat kostku. Memang tak ada yang istimewa
tentang percakapanku dengannya malam itu, tapi aku mulai sadar, ada rasa yang
tak seharusnya yang mulai merayap ke otakku, meracuni semua logika yang kupunya
hingga perbedaanku dengannya tak lagi menjadi bukan masalah. Aku tak berani
berkata aku menyukainya, tapi itulah kenyatannya ! Aku menyukainya, dan aku
tidak tahu apa yang dia rasakan. Aku hanya diam dengan yang kurasakan.
Mendiamkannya dalam setiap pesan singkatku dengannya dan setiap kali jam kuliah
ataupun nongkrong dengannya. Aku selalu menjadi pengecut untuk mengungkapkan
apa yang aku rasakan, aku hanya bisa diam dan melihatnya dengan pandangan yang
berbeda sekarang. Bodohnya aku tidak membiarkannya tahu apa yang aku rasakan
karena kau terlalu pengecut untuk berterus terang kepadanya.
***
Keretaku berjalan menembus fajar yang
mendung dengan sedikit rintik hujan yang menempel di kaca jendela kereta. Tadi
baru saja kereta ini melewati pantai utara yang sejak beberapa hari lalu
ombaknya tidak bersahabat. Kabarnya akibat dari rekayasa cuaca yang dilakukan
untuk mencegah banjir di Ibukota. Walaupun ombak pantai sedang tidak
bersahabat, tetap saja ombak-ombak itu membuatku hatiku nyaman. Aku baru bangun
dari tidurku karena telpon dari orang tuaku yang sedikit mengkhawatirkanku yang
naik kereta sendiri. Aku kembali melihat pantai dan kembali mengingatnya.
Sesak...jika
harus kuakui sesak dadaku ini dengan rasa
Sialnya
hanya mampu aku diamkan dan membusuk dirongga dada
Apa
kau tidak bisa menyadari tanpa aku ungkapkan ?
Apa
tak sanggup kau tangkap mataku yang berbicara setiapkali aku diam memandangmu ?
Tak
sampaikah nyanyian hujan padamu ?
Haruskah
kukatakan secara nyata hujan itu menyampaikan rinduku ?
Aku
jujur, ungkapku bukan candaan..
Aku
merindukanmu..
Tanpa
berani kuungkapkan padamu..
Hanya
kusampaikan pada hujan rasa rinduku..
Berharap
kau mengerti itu..
Tak
pernahkan dalam kesendirianmu kau mengerti nyanyian hujan itu ??
Dalam
hujan, itulah nyanyian rindu
Nyata,
aku tak berpura-pura..
Tapi,
tak mampu kuungkapkan aku punya rasa...
Mengertilah
tanpa harus kuugkapkan...
Aku
diam, karena aku sayang...
Entah apa, tiba-tiba dia menjauh.
Awalnya aku berfikir itu sejenis rasa jenuh sesaat yang tak akan lama hilang
dan berganti dengan perhatian-perhatiannya lagi. Beberapa waktu kunantikan
kembali perhatiannya dalam pesan singkat yag biasa dia kirim menjelang malam
atau disaat hujan datang. Tapi, perhatiannya tak kunjung datang. Aku
bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan ceritaku sebelumnya ? apakah dia
merasa lelah mendengarkan celotehku tentang masalaluku ? ataukah dia lelah
karena kau tak pernah mendengarkannya saat aku sedang sibuk-sibuknya latihan ?
Jika benar begitu, maafkan aku. Aku benar berharap
dia bisa memaafkanku dan kembali memperhatikanku lagi. Aku merindukannya.
***
3 hari sudah aku berada di tempat
kostku. Kemarin aku bertemu dengannya dalam kegiatan jurusan. Aku senang
melihatnya. Aku senang melihat senyumnya. Tapi sesak rasanya karena aku hanya
bisa melihatnya. Aku tak berani mengungkapkan apapun kepadanya. Aku tak mampu.
Entah apalagi yang akan kutuliskan dalam ceritaku ini. Aku hanya ingin
kelanjutan ceritaku kali ini berbeda dengan cerita yang mengecewakanku
sebelumnya. Aku menyukainya tanpa jeda, dan aku ingin dia mengetahuinya.
***
Untuk
seseorang yang mungkin tak pernah tau nyata perasaanku, ingin kuungkapkan
padamu aku mulai menyayangimu dengan caraku. Dalam diamku ini, ingin
kuceritakan betapa kau mampu membuatku tersenyum tentang hal kecil yang kau
katakan. Membuatku tertawa ketika bagaimana kau menghiburku saat aku merasa
sepi. Aku menyayangimu tanpa jeda. Dan aku ingin kau mengetahuinya...
Depok, 26 Januari 2014
Malam ketika aku telah bertemu
denganmu kemarin.
Untukmu yang kusayangi dalam diamku
C_813

Tidak ada komentar:
Posting Komentar