Hari minggu....
Aku sempatkan diriku untuk membereskan berkas-berkasku dan seluruh isi apartemenku yang memang sudah sangat tak karuan wujudnya. Buku-buku kuliahku dulu, draft-draft proposalku yang perlu direvisi, hasil-hasil risetku serta berkas-berkas lainnya. Semuanya aku keluarkan dari lemariku dan kuturunkan dari meja kerjaku. Ku sortir mana yang sekirannya masih kuperlukan. Dan yang sekirannya sudah tak kuperlukan, aku kumpulkan di kardus besar untuk kuloakkan.
Saat ku bereskan puluhan lembar kertas itu, aku temukan secuil berita yang mengingatkanku pada kesalahan yang kuperbuat masa lalu. “MAKSUD HATI INGIN GANDAKAN UANG, 20 JUTA MELAYANG”. Berita itu membuatku berpikir tentang hidupku yang sekarang. Apakah hidupku yang sekarang ini sudah halal ? Apakah hidupku yang sukses sekarang ini sudah diridloi-NYA...?? Pertanyaan-pertanyaan itu timbul tenggelam diotakku, menggoyahkan kembali pilar-pilar keyakinanku terhadap apa yang telah aku peroleh saat ini. Kuletakkan potongan berita itu diatas laptopku. Akan kubaca lagi nanti setelah ku selesaikan pekerjaanku.
Sejam yang lalu telah kurampungkan pekerjaanku. Kini, aku duduk-duduk di balkon apartemenku ditemani dengan secangkir kopi pahit dan kripik singkong kesukaanku. Aku bawa serta potongan berita yang kutemukan diantara lembar-lembar kerjaku. Aku baca berita itu sekali lagi. Rasa bersalahku muncul silih berganti dengan penyesalanku. Terbang ke awang-awang, aku teringat kembali pada peristiwa masalaluku. Masa lalu suramku tepatnya.
5 tahun yang lalu.....
“ Pokonya bapak harus kasih aku modal 20 juta ! Aku ndak1 mau tahu gimana cara bapak dapetin uangnya ! Pokoknya musti dapet ! Toh kalo usahaku berhasil, bapak juga yang bakal kecipratan untungnya !” hardikku kepada bapakku.
“ Uang dari mana le2 ? 20 juta itu ndak sedikit. Bapakmu ini cuma pembantu mantri le. Mbok ya kamu nyelengi3 sedikit-sedikit dulu, bapak bener-bener ndak punya uang sekarang,”jawab bapak.
“ Aku ndak mau tahu ! Pokoknya sebulan lagi uangnya harus ada ! Kalo ndak ada, aku bakalan minggat4 !” hardikku.
“ Tapi dari mana le bapak dapat uang sebanyak itu ?” bapakku memelas.
“ Ya terserah bapak, mau nipu kek, mau maling kek, mau jual rumah kek ! pokoknya musti dapet 20juta !” bentakku lagi.
“ Tapi le.....”jerit bapakku
Kubanting pintu keras-keras, tak kuhiraukan bapakku yang masih berlinangan airmata memanggil-manggil namaku. Kupacu sepeda motorku kearah kota, menuju ke kompleks perumahan elite di tengah kota. Seorang kawanku yang menawarkan kerjasama bisnis tinggal disana. Dia menawarkanku menanamkan saham sebesar 20 juta di perusahaannya yang berjaya itu. Ku iyakan tawarannya itu, tanpa ku pertimbangkan bagaimana keadaan keluargaku. Aku ingin cepat keluar dari iblis kemelaratan.
3 minggu kemudian....
Pagi tadi, pak pos mengantarkan sebuah paket kepadaku. Belum sempat kusentuh hingga saat ini. Seusai sholat, kubuka isi paket itu. Sontak aku langsung gemetar melihat apa isinya. Tak lain adalah berlembar-lembar uang pecahan 100.000 dan 50.000. Didalamnya juga ada bukti pengiriman dan tertulis Rp. 20.000.000,00. Pengirimnya tak lain dan tak bukan adalah bapakku. Tertulis namanya dalam bukti pengiriman tersebut. Kumasukkan uang tersebut ke lemariku dan kukunci rapat. Segera ku pacu sepeda motorku menuju ke rumah bapakku. Ingin kukucapkan terimakasih yang sangat besar kepadanya. Tak lupa aku mampir dulu ke rumah temanku untuk menyerahkan uang 20 juta tersebut.
Sesampainya dirumah, tak kujumpai seorang pun didalamnya. Kucari bapak di kamar, tak kutemukan. Kucari di ruang sholat, juga nihil, kucari di bale-bale belakang rumah juga kosong. Rumahku tak berpenghuni. Aku berlari ke rumah salah seorang tetanggaku. Kutanyakan perihal dimana bapakku. Barangkali dia tahu sesuatu.
“ Dhe, panjenengan ngertos bapak medhal datheng pundi5 ?”Tanyaku pada Dhe6 Sakiran tetangga samping rumahku. Kebetun juga dia adalah teman dekat ayahku.
“ Gak ngerti aku le, lha bapakmu wes sminggu iki ugak muleh, wingi eneg seng nggoleki, jarene bapakmu gowo mlayu dwite7,” jawab Dhe Sakiran.
“ Lha pripun lho Dhe8 ?” tanyaku minta penjelasan.
“ Aku yow ugak roh le, wong wingi Cuma ngomong nag bapakmu ikuw gowo dwite 20 juta. Aku dewe yo ugak eroh dienggo opo dwit ngunu atrahe, trus wongnge langsung muleh meneh. Ketokane wong sugih kok le seng nggoleki bapakmu kuwi9,”tandas Dhe Sakiran lagi.
Seketika itu juga aku terdiam. Aku menerka-nerka apa yang telah diperbuat bapakku. Jadi, uang 20 juta itu adalah uang orang lain. Ya Allah, apa yang telah kuperbuat !! Aku membuat bapakku melakukan dosa Ya Allah, sekarang, bapakku hilang tak tahu rimbanya. Ya Allah, ampuni aku.
“ Kenopo le10 ?” tanya Dhe Sakiran padaku.
“ Mboten nopo-nopo Dhe. Nggih sampun, kula tak balik rumiyin, mangke nag wonten kabar saking bapak, kula dikabari nggih Dhe, Assalamu’alaikum11,” aku pamit.
“ Iyo le, Wa’alaikum salam12,”jawab Dhe Sakiran
Kupacu lagi sepedamotorku kembali ke kost-anku. Sesampainya di kost, aku menagis sejadi-jadinya. Dian temanku sekamar menanyakan keadaanku. Aku tak bisa menjawab, aku Cuma bisa menangis. Dadaku sesak oleh rasa bersalahku kepada bapakku.”Bapak, bapak dhateng pundi ? Sepunrane pak ! Sepurane13 !” isakku dalam hati.
2 minggu setelah kuterima uang dari bapak...
Kini aku telah bekerja di kantor milik Gunawan, sahabatku. Aku menjabat sebagai manajer keuangan. Aku juga sudah pindah dari kost-anku ke sebuah apartemen di pusat kota. Satu hal yang masih mengganjal pikiranku, dimana bapakku sekarang ? Apa yang terjadi padanya ? Bagaimana keadaannya ? Kucuba untuk melupakan itu semua. Aku tahu, aku durhaka kalo aku berusaha melupakan bapakku, bapakku satu-satunya orang tuaku yang masih aku miliki sekarang. Tapi biarlah, biar saja, aku akan mencarinya nanti, setelah aku benar-benar bebas dari iblis kemiskinan. Akan kutemukan bapakku dan kuajak hidup bahagia bersamaku disini.
Kubaca koran pagi di kantor. Suatu hal yang kembali mnengejutkanku, disalah satu sudut koran, kubaca berita tentang penipuan yang dilakukan oleh seorang dukun yang berkedok penggandaan uang. Si korban menyerahkan modal sebesar Rp 20.000.000,00 dan si dukun membawa kabur uang itu. Aku tahu siapa si dukun itu, dan aku juga tahu, kemana uang Rp 20.000.000 itu.
Penyesalan kembali menguasai pikiranku. Aku yang menyebabkan bapakku menjadi buronan polisi, aku yang menyebabkan bapakku jadi tersangka kasus penipuan. Aku anak yang durhaka Tuhan ! Bapakku tak bersalah Tuhan ! Aku yang bersalah ! Hukum aku Tuhan, hukum aku saja, tapi jangan bapakku ! Nyaris kuteteskan kembali airmtakau kalau tidak kuperhatikan bahwa aku sekarang berada di kantor. Segera kuseka mataku yang berlinang-linang menahan air mata yang hendak keluar dari bendungannya.
5 tahun yang lalu, aku mulai batu loncatan dari kehidupan yang penuh derita ke kehidupan yang lebih sejahtera. 5 tahun yang lalu, ku mulai lembaran baru hidupku dari masa suram ke masa yang lebih menjanjikan. Tapi, 5 tahun yang lalu pula, kutorehkan sebuah dosa besar dalam catatan malaikatku. Hingga kini, bapakku raib, tak kuketahui rimbanya.Masih sering aku mengunjungi rumah bapak, berharap bapak tiba-tiba pulang kerumah dan menungguku pulang. Tapi sepertinya itu Cuma hanya ada dalam angan-anganku saja.
Setiap selesai sholat, kudo’akan bapakku, aku minta ampun kepada Allah atas dosaku yang telah membuat bapakku hilang entah dimana sekarang. Tapi siang itu, sesuasai aku sholat, Andri, anak Dhe Sakiran tiba-tiba mengunjungiku. Ini tak biasa. Sepertinya ada hal yang penting yang ingin disampaikannya kepadaku.
“Ono opo Ndri ? Ketokane kug eneg seng penting14 ?”tanyaku kepadanya setelah kupersilahkan masuk.
“Niku mas, Pakdhe Hariyadi, bapake sampeyan sampun kapundut mas15 !” jawabnya dengan sendu.
“Hah ! Kowe tenanan opo ora le ? Bapakku iku ilang le16 !”aku sontak kaget dengan apa yang dikatakan Andri.
“Inggih mas, seminggu winginane, Pakde Hariyadi manthuk. Pakdhe sampun gerah. Kulo badhe mriki tapi mboten angsal kalian Pakdhe, terose kersane sampeyan mboten terganggu, kula kalihan keluarga datheng mriko nggih nrut kemawon, trus, wingi pakdhe niku kritis. Kula betho datheng PUSKESMAS, terose dikengken mbeto dateng Rumah Sakit. Tapi, Pakdhe Hariyadi mboten purun. Akhire kula betho manthuk malih, datheng ndalem, kira-kira jam 3 sonten, pakdhe ngucap namine sampeyan kalihan takbir. Bakdho niku, pakdhe kapundet dening Gusti Allah mas17,”sambung Andri.
Aku syok berat. Aku terkulai lemas, seolah-olah tak mampu lagi kuucapkan sepatah kata pun. Bapakku telah berpulang tanpa sempat aku meminta maaf padanya. Bapakku telah pergi sebelum sempat kubersihkan namanya. Bapakku telah tiada sebelum sempat kubahagiakan dia dengan hasil jerih payahku selama 5 tahun terakhir ini.
“Kenopo Ndri ? Kenopo bapak gak pamit karo aku ? Kenopo bapak gak gelem ketemu aku ? Kenopo bapak ninggal aku saiki ? Aku durung njaluk sepura Ndri, aku durung nggawe bapak seneng Ndri18,”ucapku sambil terisak.
“Pakdhe sempet ngomong kalihan kula mas, pakdhe terose mboten purun ngrusuhi uripe sampeyan seng wis mapan saiki. Pakdhe mboten kepingin sampeyan isin nduwe bapak kayak pakdhe Hariyadi. Sabar mas, pakdhe cuma kepingin uripe sampeyan mulya19,”jawab andri coba menghibutku.
Pemuda berusia 20 tahun itu coba menenangkanku. Hatiku hancur. Aku terisak tak henti-henti. Teringat kembali pertemuan terakhirku dengannya 5 tahun lalu yang kuhiasi dengan amarah. Aku merasa berdosa, aku menyesal dengan perkataanku 5 tahun lalu padanya. Makianku, amarahku adalah hal terakhir yang kuberi padanya. Aku menyesal, sangat-sangat menyesal. Kuminta Andri menemaniku ke pusara ayahku. Disana aku kembali meneteskan airmata. Andri dengan sabar mencoba menenangkanku.
“ Sabar mas. Mas Widi mboten mestine nangis terus-terusan kados ngeten niki, ngeten iki malah nggawe pakdhe mboten tenang datheng mriko. Mas Widi mestine kudu iso tegar mas, pakhe mboten pingin mas nangis, pakdhe niku kepingin mas uripe ayem. Padhe mboten botoh donyane mas sakniki. Pakdhe namung butuh dongane mas sakniki, kersane pakdhe saged lancar datheng mriko20,”tandas Andri dengan tegas.
Perlahan tangisku mereda. Pelan-pelan kuseka airmataku dan kupanjatkan do’a untuknya. “Sepurane pak21,”aku meminta maaf lagi padanya. “ Tuhan, aku memang anak yang durhaka Tuhan. Belum sempat kubahagiakan bapakku. Hanya makian, amarah dan keluhan yang terlalu sering kulontarkan padanya, bahkan kulontarkan juga ketika pertemuan terakhirku dengannya. Tuhan, berikanlah bapakku tempat yang terindah disisimu Tuhan, jangan buang dia seperti aku membuangnya. Jadikanlah dia salah seorang penghuni surgamu Tuhan,” do’aku dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar