Sebenarnya sudah nggak penghen ungkit-ungkit dalam wujud dan bentuk apapun. Tapi rasanya sakit. Terlalu sakit kalo dia tidak tau apa yang kurasa. Dia bilang dia mengerti aku. Tapi itu ngk sepenuhnya. Dia ngk tau aku, dia ngk ngerti aku. Juga sama seperti sahabatnya yang dia dewa-dewakan itu, sahabatmu, bukan sahabatku sayang.....
Ahhh......
Selalu saja seperti ini. Masih saja kuingat-ingat kenangan itu. Sulit sekali mengapusnya dari pikiranku. Padahal sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana sikap dan perilakunya pada faktanya. Tidak sesuai dengn yang diutarakan kepadaku. Apa itu yang namanya sikap biasa...??? Apa itu yang namanya "sudah ngk suka" ? Apa itu yang namanya cuma sebatas sahabat...???? Sepertinya tidak. Wis lelah aku sebenernya. Lebih dari 1 bulan aku berusaha bertahan dan mencoba untuk jadi sedikit diam. Tetep aja sahabatnya yang paling benar. Dan tetap saja aku sebgai noda hitam diantara kain putih. Tetap saja aku tersangka utama dalam sebuah sidang. Tetaplah aku iblisnya, dan tetap dia yang jadi malaikat untukmu.
Kemarin, aku melihat lagi film PUPUS. Lagi-lagi aku menangis. Lalu kulihat film yang kebetulan lama tak kulihat kembali. DOREMIFASOLASIDO. Ceritanya pass. Yang berbeda mungkin adalah endingnya. Dalam film itu, diceritakan, pemain utama meninggalkan kekasihnya untuk sahabatnya yang menurut dia sudah terlalu lama sakit karena dia. Si pemeran utama menuruti saja apa kata sahabatnya itu. Bahkan, sii pemeran utama dengan bodohnya membiarkan kekasihnya pergi. Kekasihnya mengalami kecelakaan kemudian gila, bukan gila tepatnya. Tetapi berusaha melupakan masa lalu dengan si pemeran utama. Walaupun film tetap saja cuma film yang jlan ceritanya bisa saja diatur oleh sang sutradari, tapi, hidup ini memang film dengan Tuhan lah sebagai sutradaranya.
Akhirnya kata-kata itu meluncur walau agak tersendat. Aku membebaskanmu, aku tak ingin mengekangmu lagi. Aku sudah tak ingin melihatmu marah dan kecewa karenaku. Aku tau keadaanmu, aku tau mimpimu, oleh karena itu, aku membebaskanmu.
Banyak hal darimu yang hingga saat ini sulit untuk aku mengerti dan juga sulit untuk aku terima. Apa tak ada sahabat lain yang bisa kamu jadikan sahabat...?? Kenapa harus dia yang jadi sahabatmu...??? Kenapa kamu harus menceritakan tentang aku kepada sahabatmu...??? Kamu tau ?? Sahabatmu itu tak tau sedikitpun tentang aku. Aku ulangi SAHABATMU TAK TAU SEDIKITPUN TENTANG AKU. Aku tak suka kamu menceritakan tentang diriku kepada sahabatmu. Dan aku juga tidak suka jika aku harus seperti sahabatmu. Mungkin menurutmu, aku mengekangmu, dan aku tak pernah mengerti kamu. Tapi, pernah nggak kamu berfikir untuk sedikit saja membuat hatiku lega ? Paling tidak dengan "sedikit" jaga jarak dengan sahabatmu itu. Aku tak minta apa-apa kan kepadamu...??? Apa aku pernah marah kepadamu ketika bukan aku yang jadi perawatmu tapi sahabatmu ? Apa aku marah ketika aku melihatmu berbicara didepan pintu berdua dengan sahabatmu ??? Apa aku marah ketika aku tau kamu diam-diam sering SMS-an dengan sahabatmu...?? Aku hanya bilang aku cemburu kan..?? kemudian kutelan sendiri pil pahit kecuekanmu karena kamu kecewa denganku yang tak pernah bisa menerima sahabatmu.
Sebenarnya, kamu itu sama saja sepertiku yang tak pernah bisa menerima sahabatmu. Kamu juga kan..?? Kamu juga ngak bisa menerima sahabatku, bahkan kamu juga tak begitu suka dengan mimpiku ? Aku sudah lepaskan 2 hal itu untukmu. Dan yang terkhir ini, aku lepaskan kamu agar kamu bisa bebas dengan sahabatmu. Semuanya terlihat seolah-olah seperti disengaja. Selalu bersama. Dan daripada hatiku ini semakin kotor karena kebencianku dengan sahabatmu yang semakin menjadi-jadi, lebih baik, aku saja yang harus mengikhlaskan mu pergi. Dengan seperti itu, aku tak akan mengotori hidupmu dengan kebencianku ini.
Ketika beberapa hari kemudian kamu mengirimkan sms sahabatmu kepadaku, aku tetap diam kan ? Aku hanya ingin melihat perubahan sikapnya yang katanya ingin menjauh darimu dan merasa berdosa jika dekat laki-laki lain. Bahkan dia tau kan kalau aku benar-benar sayang kamu ? Dia tau itu, tapi dia tak pernah mau jaga perasaanku. Sudah dari awal kubilang, sahabatmu itu bukan sahabatku sayang....
Apa kamu tau sikap sahabatmu dibelakangmu ? Kamu sendiri kurang mengerti bagaimana sahabatmu itu. Apa ya kata-kata yang tepat ? Susah ! Aku takut menyinggung. Apa kamu tau apa yang dikatakan sahabatmu kepada orang lain tentangku...??? Kamu tak tau kan.
Tapi sudahlah. Sudah waktunya berkhir mungkin. Walau hati ini berkata aku masih sayang kamu, aku tak ingin semakin membuatmu muak dan membenciku. Kamu tau bagaimana hatiku sebenarnya. Jika setelah ini aku seolah-olah terlihat bahagian dengan orang lain, kamu tau apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan aku jika selama ini aku hanya membuatmu kecewa dan marah, tapi sejatinya itulah yang aku rasakan. Aku pernah menulis, sejatinya, aku bukan hanya ingin selalu bersamamu, tapi aku butuh kamu. Aku butuh kamu untuk bernafas, aku butuh kamu untuk bisa berpikir, aku butuh kamu untuk aku bisa sehat. Aku butuh kamu. Maafkan aku.....
lagu untukmu....
dan lagi terjadi peristiwa terperih
yang selalu kau beri
seakan tak berarti untuk kesekian kalinya
ku tak bisa berbuat apa lagi
haruskah kita berakhir cukup sampai di sini
meski hati berkata tak mampu
tak ingin terlambat menyudahi keadaan ini
mungkin ini jalan kita(lyla_dan lagi)

Bagus :)
BalasHapus